» ADAB-ADAB BERPUASA ROMADHON .:: Darul-Ilmi ::.

ADAB-ADAB BERPUASA ROMADHON
Saudaraku kaum muslimin rohimaniyallohu wa
iyyakum ajma’in ….
Tanpa terasa, sebentar lagi Bulan nan Suci
Romadhon tiba kembali. Sebagai seorang muslim
dan mu’min, tentu kita sangat berbahagia sekali
seandainya saja Alloh Subhanahu wa Ta’ala benar-
benar memberikan kesempatan kepada kita lagi
untuk memasuki bulan Romadhon tersebut, dan
Alloh juga memberikan taufiq kepada kita sekalian,
untuk dimudahkan dalam menunaikan rangkaian
ibadah puasa di bulan Romadhon tahun ini, dan
mengisinya dengan berbagai amal sholih dan
ketaatan.
Ya, hal ini mengingat, bahwa banyak saudara-
saudara kita kaum muslimin, yang Romadhon
tahun lalu masih bersama kita, tapi pada bulan
Romadhon tahun ini telah tiada dan mendahului
kita berpulang ke Rohmatulloh Ta’ala. Maka kita
pun berharap, mudah-mudahan Alloh Ta’ala masih
memberikan kesempatan kepada kita untuk
menunaikan ibadah puasa di tahun ini, yang
waktunya tinggal sebentar lagi.
Dan untuk menyambut datangnya bulan suci
Romadhon kali ini, kami ingin berbagi ilmu kepada
segenap saudara kami kaum muslimin, khususnya
tentang Adab-Adab Berpuasa Romadhon. Ya,
tentunya harapan kami dan kita semuanya, semoga
ibadah puasa kita benar-benar menjadi amalan
sholih yang diterima oleh Alloh Subhanahu wa
Ta’ala, dan menjadi amalan yang diridhoi-Nya dan
dibalas-Nya dengan jannah-Nya yang tinggi dan
mulia.
Diantara adab-adab tersebut adalah : Baca lebih lanjut

Iklan

Sholat berjama’ah

SHOLAT BERJAMA’AH DAN HUKUM-HUKUM YANG
TERKAIT DENGANNYA (Bagian ke-3)
Masalah : “Bolehkah melaksanakan sholat jama’ah
kedua dan seterusnya (yakni beberapa kali sholat
jama’ah) dalam satu masjid yang telah
dilaksanakan sholat berjama’ah di dalamnya ?”
Dalam masalah ini, ada dua pendapat para ulama
yang masyhur, diantaranya adalah sebagai
berikut :
Pertama : Berpendapat makruh -nya (dibencinya)
hal tersebut. Ini adalah pendapat sekelompok
ulama, diantaranya : Salim, Abu Qilabah, Sa’id bin
Al-Musayyab, Al-Hasan al-Bashri, An-Nakho’i, Ad-
Dhohak, Al-Qosim, Az-Zuhri, Al-Laits, Al-‘Auza’i,
Ats-Tsauri, Abu Hanifah, Malik, Ibnul Mubarok,
Asy-Syafi’i dan yang lainnya.
Dalil tentang hal ini, atsar dari Ibnu Mas’ud
rodhiyallohu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam
Abdurrozzaq dalam Al-Mushonnaf (2/409) :
ﺃﻧﻪ ﺟﺎﺀ ﺇﻟﻰ ﻣﺴﺠﺪ ﻓﻮﺟﺪﻫﻢ ﻗﺪ ﺻﻠﻮﺍ , ﻓﺮﺣﻊ ﺇﻟﻰ ﻣﻨﺰﻟﻪ
ﻓﺼﻠﻰ ﺑﺎﻟﻸﺳﻮﺍﺩ ﻭﻋﻠﻘﻤﺔ ﻓﻲ ﺑﻴﺘﻪ
“Bahwa Ibnu Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu datang ke
suatu masjid, dan dia mendapati bahwa mereka
telah melaksanakan sholat berjama’ah di
dalamnya, maka dia kembali pulang ke rumahnya,
kemudian dia sholat bersama Al-Aswad dan
Alqomah di rumahnya.”
Atsar ini datang dari jalan Hammad bin Abi
Sulaiman, dari Ibrohim, dan riwayat darinya ada
kelemahan, sebagaimana disebutkan oleh Al-Hafidz
Ibnu Hajar dalam At-Tahdzib , wallohu a’lam.
Dalil kedua, atsar dari Al-Hasan Al-Bashri
rohimahulloh sebagaimana yang diriwayatkan oleh
Imam Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf
(2/323), bahwa Al-Hasan Al-Bashri rohimahulloh
berkata :
ﻛﺎﻥ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺇﺫﺍ ﺩﺧﻠﻮﺍ
ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﻭ ﻗﺪ ﺻﻠﻲ ﻓﻴﻪ, ﺻﻠﻮﺍ ﻓﺮﺍﺩﻯ
“Dahulu para shahabat Nabi Muhammad
shollallohu ‘alaihi wa sallam, apabila mereka
masuk masjid dan telah dilaksanakan sholat di
dalamnya, maka mereka sholat sendiri-sendiri.”
Atsar ini, dalam sanadnya ada Abu Hilal
Muhammad bin Salim Ar-Rosibi, dia telah
tercampur/berubah hapalannya (mukhtalifun fiihi ),
dan yang rojih dia itu rowi yang dho’if.
Dalil lainnya, hadits Abu Bakroh rodhiyallohu
‘anhu, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam At-
Thobroni dalam Al-Ausath (no. 4598) :
ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻗﺒﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﻮﺍﺣﻲ ﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ
ﻳﺮﻳﺪ ﺍﻟﺼﻼﺓ, ﻓﻮﺟﺪ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻗﺪ ﺻﻠﻮﺍ , ﻓﻤﺎﻝ ﺇﻟﻰ ﻣﻨﺰﻟﻪ ,
ﻓﺠﻤﻊ ﺃﻫﻠﻪ ﻓﺼﻠﻰ ﺑﻬﻢ
“Bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam menuju
ke arah Madinah (sepulang dari safar, edt.) beliau
hendak melaksanakan sholat, tetapi beliau
mendapati mereka (para shahabat) telah
melaksanakan sholat, maka beliau pun berpaling
menuju rumahnya, lalu mengumpulkan anggota
keluarganya dan sholat bersama mereka.”
Hadits ini dho’if, di dalam sanadnya ada
Mu’awiyyah bin Yahya Al-Athrobilisi Ad-Dimasyqi,
dia ini bagus haditsnya tetapi banyak
meriwayatkan hadits-hadits Mungkar, dan hadits
ini termasuk salah satu darinya, sebagaimana
dijelaskan dalam kitab Al-Kamil dan Al-Mizan .
Kedua : Berpendapat bolehnya melakukan sholat
jama’ah kedua atau seterusnya. Hal ini
sebagaimana pernah dilakukan oleh salah satu
sahabat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam
yang mulia, yakni Anas bin Malik rodhiyallohu
‘anhu. Ini juga adalah pendapat Atho’, Qotadah,
Makhul, Ishaq, Abu Yusuf, Muhammad, Dawud ad-
Dhohiri, An-Nakho’i dalam salah satu
pendapatnya, juga Imam Ahmad dalam salah satu
pendapat beliau.
Mereka berdalil dengan hadits Abu Sa’id al-Khudri
rodhiyallohu ‘anhu, ia berkata :
ﺟﺎﺀ ﺭﺟﻞ ﻓﻘﺪ ﺻﻠﻰ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ,
ﻓﻘﺎﻝ : ﺃﻳﻜﻢ ﻳﺘﺠﺮ ﻋﻠﻰ ﻫﺬﺍ ؟ ﻓﻘﺎﻡ ﺭﺟﻞ ﻓﺼﻠﻰ ﻣﻌﻪ
“Seseorang datang (ke masjid Nabawi), sedangkan
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam telah
sholat (bersama para shahabat beliau), lalu beliau
bersabda (kepada para shahabatnya) : “Siapakah
diantara kalian yang mau bershodaqoh (yakni
dengan sholatnya, edt.) terhadap orang ini ?” Maka
berdirilah (salah seorang dari shahabat Nabi)
kemudian dia sholat bersamanya.” (HR Imam
Ahmad (3/5) dan Abu Dawud (no. 574), hadits ini
sanadnya shohih)
Pendapat yang kedua inilah pendapat yang rojih
(kuat dan terpilih), karena shohihnya dalil yang
dibawakannya. Pendapat inilah yang dipilih oleh
Syaikh Al-‘Allamah Ibnu Baaz, Syaikh Al-‘Allamah
Ibnu Utsaimin dan Syaikh Al-‘Allamah Muqbil Al-
Wadi’i rohimahumulloh ajma’in. Demikian pula ini
pendapat guru kami, Syaikh Yahya Al-Hajuri dan
Syaikh Muhammad bin Ali bin Hizam
hafidzohulloh. Adapun pendapat pertama, semua
dalil yang dibawakannya dho’if.
Pendapat yang pertama juga mengatakan, bahwa
kalau dibolehkan sholat jama’ah kedua dan
seterusnya, maka orang akan bermudah-mudahan
dalam meninggalkan sholat jama’ah yang pertama,
dan ini menyebabkan perselisihan umat. Alasan
seperti ini dapat dibantah sebagai berikut : “Bahwa
keutamaan sholat secara berjama’ah, tidak bisa
ditinggalkan dengan alasan seperti itu. Jadi, kalau
seseorang mau sholat jama’ah di masjid, dan telah
mendapati sholat jama’ah pertama telah selesai,
maka boleh bagi dia mengajak orang lain yang
belum sholat atau yang sudah sholat sekalipun,
untuk sholat jama’ah bersamanya, sebagaimana
dicontohkan dalam hadits yang shohih tersebut di
atas, wallohu a’lam.”
Demikianlah, jadi menurut pendapat yang rojih,
boleh hukumnya bagi kita untuk melaksanakan
sholat jama’ah kedua dan seterusnya bagi kita
yang ingin sholat berjama’ah di masjid tetapi
mendapati sholat jama’ah pertama telah selesai.
Hal ini bisa kita lakukan, baik di masjid yang
mempunyai imam rowatib (imam tetap untuk
sholat lima waktu) atau yang tidak mempunyai
imam rowatib (seperti di masjid/musholla terminal,
kantor dll).
(Untuk pembahasan ini, silahkan periksa kitab-
kitab sebagai berikut : Al-Mughni (3/10), Fathul
Bari (4/23 dan seterusnya) oleh Al-Hafidz Ibnu
Rojab al-Hambali, Tamamul Minnah (hal 155 dst)
oleh Syaikh Al-‘Allamah Al-Albani, Fatawa Lajnah
Ad-Daimah (7/309), dan Fatawa Syaikh Al-
Utsaimin (15/84 dst), dan lain-lain) Wallohu
a’lamu bis showab.
Masalah : “Bila ada seseorang atau beberapa
orang yang terlambat/tertinggal dari sholat
jama’ah yang pertama, dan ingin mendirikan
sholat jama’ah yang berikutnya di masjid tersebut,
bolehkah bagi mereka untuk memulai dengan
sholat sunnah rowatib (qobliyyah), ataukah dia
harus langsung melakukan sholat yang fardhu/
wajib saja ?”
Tentang masalah ini, mayoritas ahli ilmu (para
ulama) berpendapat bolehnya bagi mereka sholat
sunnah rowatib (qobliyyah) lebih dulu, baru
kemudian sholat fardhu secara berjama’ah.
Ada riwayat yang shohih dari Anas bin Malik
rodhiyallohu ‘anhu, bahwa beliau pernah
melakukan hal tersebut. Ini juga adalah
pendapatnya Imam Malik, As-Syafi’i, Abu Hanifah
dan Imam Ahmad dalam salah satu pendapat dari
beliau.
Sebagian ulama lainnya berpendapat, hendaknya
langsung melakukan sholat yang fardhu saja (tanpa
mendahului dengan sholat sunnah rowatib). Ini
adalah pendapatnya As-Sya’bi, An-Nakho’i, Atho’,
Ats-Tsaury, Al-Laits, dan Imam Ahmad dalam
salah satu pendapat dari beliau. Adapun Al-Hasan
Al-Bashri mengecualikan untuk sholat sunnah
sebelum sholat Shubuh (yakni bolehnya
mendirikan sholat sunnah rowatib qobliyyah
shubuh, edt.). Diriwayatkan juga, bahwa ini adalah
pendapatnya Ibnu Umar rodhiyallohu ‘anhuma,
tetapi riwayatnya tidak shohih dari beliau.
Menurut guru kami, As-Syaikh Abu Abdillah
Muhammad bin Ali bin Hizam hafidzhohulloh,
pendapat yang shohih adalah pendapat yang
pertama, wallohu a’lamu bis showab. (Fathul
‘Allam , 2/14)
Masalah : “Bila ada seseorang atau beberapa
orang yang terlambat/tertinggal dari sholat Jum’at
di masjid, bolehkah bagi orang tersebut dan
beberapa orang yang lainnya untuk sholat Dhuhur
berjama’ah di masjid tersebut ?”
Tentang masalah ini, sebagian ulama berpendapat
dimakruhkannya/dibencinya hal tersebut, karena
hal itu berarti menampakkan perpecahan terhadap
para imam (yakni imam-imam sholat jum’at atau
imam rowatib yang telah ditentukan, edt.), dan
akan membuat para ahli bid’ah berani terang-
terangan untuk meninggalkan sholat jum’at, lalu
dia akan sholat dhuhur di masjid tersebut
sebagaimana sholat pada hari-hari biasanya.
Para ulama yang berpendapat seperti itu
diantaranya adalah Al-Hasan Al-Bashri, Abu
Qilabah, dan Abu Hanifah. Imam Ahmad juga
berpendapat seperti itu, terutama bila jumlah
orang-orang yang melakukan hal itu sangat
banyak.
Adapun para ulama lainnya berpendapat
diberikannya rukhshoh (keringanan) atas bolehnya
hal tersebut, diantaranya adalah Ibnu Mas’ud, Iyas
bin Mu’awiyyah, As-Syafi’i, Ahmad dan Ishaq.
Dari dua pendapat tersebut, mana yang rojih ?
Menurut guru kami, As-Syaikh Abu Abdillah
Muhammad bin Ali bin Hizam hafidzhohulloh,
beliau menegaskan : “Pendapat inilah (yang kedua)
yang benar. Tidak boleh (bagi seseorang atau
beberapa orang) meninggalkan keutamaan sholat
berjama’ah, dikarenakan (perbuatan) ahli
bid’ah.” (Fathul ‘Allam , 2/13)
Artinya, adanya seseorang atau beberapa orang
yang terlambat/tertinggal dari sholat jum’at di
suatu masjid, tidak menghalangi bagi mereka
untuk sholat berjama’ah dhuhur di masjid yang
telah selesai dari sholat jum’at. Hal itu karena
tidak boleh bagi mereka sholat jum’at kedua dan
seterusnya karena telah terlambat, sehingga
mereka harus melakukan sholat dhuhur. Dan untuk
melaksanakan sholat dhuhur itu pun boleh bagi
mereka sholat secara berjama’ah, mengingat
fadhilah/keutamaannya. Insya Alloh inilah pendapat
yang benar. Wallohu a’lamu bis showab.
(lihat pula pembahasan masalah ini pada kitab
Fathul Bari Syarh Shohih Al-Bukhori (4/26-27),
karya Al-Hafidz Ibnu Rojab Al-Hambali
rohimahulloh)
(Insya Alloh bersambung pada bagian ke-4,
semoga Alloh Ta’ala memudahkan untuk
menyusunnya)
(Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby)
sumber :
http://www.darul-ilmi.com

sofyan assingkepy punggur batam

» SHOLAT BERJAMA’AH DAN HUKUM-HUKUM YANG TERKAIT DENGANNYA (Bagian Pertama) .:: Darul-Ilmi ::.

SHOLAT BERJAMA’AH DAN HUKUM-HUKUM YANG
TERKAIT DENGANNYA (Bagian Pertama)
Apa Hukumnya Sholat Berjama’ah itu ?
Tentang masalah ini, para ulama terbagi menjadi
empat pendapat sebagai berikut :
Pertama : Hukumnya Wajib ‘Ain bagi setiap orang
laki-laki. Ini adalah pendapatnya Al-Hasan Al-
Bashri, Atho’, Imam Ahmad bin Hambal, Abu
Tsaur, Ishaq, Al-Auza’i, At-Tsauri, Al-Fudhoil bin
Iyadh, Al-Imam Al-Bukhori, serta mayoritas para
fuqoha’ hadits, diantaranya : Ibnu Khuzaimah dan
Ibnul Mundzir. Pendapat ini dirojihkan (yang
dikuatkan) oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
rohimahulloh. Baca lebih lanjut

Al Utsmaniy: Ada Apa di BULAN MUHARRAM?

ﺇﻥ ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﻧﺤﻤﺪﻩ ﻭﻧﺴﺘﻌﻴﻨﻪ ﻭﻧﺴﺘﻐﻔﺮﻩ ﻭﻧﻌﻮﺫ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻣﻦ
ﺷﺮﻭﺭ ﺃﻧﻔﺴﻨﺎ ﻭﻣﻦ ﺳﻴﺌﺎﺕ ﺃﻋﻤﺎﻟﻨﺎ، ﻣﻦ ﻳﻬﺪﻩ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻼ ﻣﻀﻞ
ﻟﻪ، ﻭﻣﻦ ﻳﻀﻠﻠﻪ ﻓﻼ ﻫﺎﺩﻱ ﻟﻪ، ﻭﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ
ﻭﺣﺪﻩ ﻻ ﺷﺮﻳﻚ ﻟﻪ، ﻭﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻣﺤﻤﺪﺍ ﻋﺒﺪﻩ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ. ﺃﻣﺎ
ﺑﻌﺪ :
Diantara ayat-ayat yang menunjukkan
kesempurnaan dan kekuasaan serta kebijaksanaan
Alloh adalah pergantian malam dan siang,
perbedaan panjang dan pendeknya, panas serta
dinginnya. Semua ini adalah nikmat Alloh kepada
hamba-hambaNya yang tidak disadari
keagungannya kecuali oleh orang-orang yang
mempunyai akal sehat. Alloh telah berfirman:
ﺇِﻥَّ ﻓِﻲ ﺧَﻠْﻖِ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻷﺭْﺽِ ﻭَﺍﺧْﺘِﻼﻑِ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻭَﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ
ﻵﻳﺎﺕٍ ﻷﻭﻟِﻲ ﺍﻷَﻟْﺒَﺎﺏِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan
bumi, dan silih bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang
berakal.” (QS. Ali Imron: 190)
ﻳُﻘَﻠِّﺐُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞَ ﻭَﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭَ ﺇِﻥَّ ﻓِﻲ ﺫَﻟِﻚَ ﻟَﻌِﺒْﺮَﺓً ﻷﻭﻟِﻲ ﺍﻷﺑْﺼَﺎﺭِ
“Allah mempergantikan malam dan siang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat
pelajaran yang besar bagi orang-orang yang
mempunyai penglihatan.” (An-Nuur: 44)
Sebagai seorang muslim sudah sepantasnya
untuk mengambil pelajaran dari perjalanan malam
dan siang ini. Baca lebih lanjut

» [ Update ] “Bulan MUHARROM adalah bulan mulia dalam Islam, bukan bulan yang mendatangkan kesialan.” .:: Darul-Ilmi ::.

Update ] “Bulan
MUHARROM adalah bulan
mulia dalam Islam, bukan
bulan yang mendatangkan
kesialan . ”
Tanya : “Bagaimana sebenarnya
pandangan Islam mengenai bulan
Muharrom atau bulan Suro itu ? Kata
banyak orang, bulan ini sering dianggap
bulan yang mendatangkan kesialan,
benarkah yang seperti itu?
Jawab :
Ketahuilah, dalam Islam, bulan Muharrom atau
bulan Suro (menurut istilah orang Jawa) ini
termasuk salah satu bulan diantara empat bulan
yang digelari dengan Asy-hurul Hurum (bulan-
bulan suci), karena di dalam bulan ini dilarang
melakukan kedzoliman, apapun bentuknya. Bahkan
pada masa orang-orang arab jahiliyyah dulu,
bulan-bulan tersebut sudah dianggap sebagai
bulan-bulan suci yang tidak boleh ternoda oleh
pertikaian, pertumpahan darah dan berbagai
kedzoliman lainnya.
Lalu Islam datang dan menetapkannya sebagai
syari’at, sebagaimana dinyatakan oleh Alloh ta’ala
dalam firman-Nya (yang artinya) :
ﺇِﻥَّ ﻋِﺪَّﺓَ ﺍﻟﺸُّﻬُﻮﺭِ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﺛْﻨَﺎ ﻋَﺸَﺮَ ﺷَﻬْﺮًﺍ ﻓِﻲ ﻛِﺘَﺎﺏِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻳَﻮْﻡَ
ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻷﺭْﺽَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺃَﺭْﺑَﻌَﺔٌ ﺣُﺮُﻡٌ ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟﺪِّﻳﻦُ ﺍﻟْﻘَﻴِّﻢُ
ﻓَﻼ ﺗَﻈْﻠِﻤُﻮﺍ ﻓِﻴﻬِﻦَّ ﺃَﻧْﻔُﺴَﻜُﻢْ ﻭَﻗَﺎﺗِﻠُﻮﺍ ﺍﻟْﻤُﺸْﺮِﻛِﻴﻦَ ﻛَﺎﻓَّﺔً ﻛَﻤَﺎ
ﻳُﻘَﺎﺗِﻠُﻮﻧَﻜُﻢْ ﻛَﺎﻓَّﺔً ﻭَﺍﻋْﻠَﻤُﻮﺍ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻣَﻊَ ﺍﻟْﻤُﺘَّﻘِﻴﻦَ ‏( ٣٦ )
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Alloh adalah
dua belas bulan, (yakni) di dalam ketetapan Alloh
ketika Dia menciptakan langit dan bumi.
Diantaranya (ada) empat bulan (suci). Itulah
ketetapan agama yang lurus, maka janganlah
menganiaya diri (berbuat dholim) dakam bulan
yang empat itu.” (QS. At-Taubah : 36) Baca lebih lanjut

Hukum Puasa Sehari Sebelum ‘AsSyuro’ dan Sesudahnya | ASH-HABUL HADITS

Hukum Puasa Sehari Sebelum ‘AsSyuro’ dan
Sesudahnya
Tanya: Apakah benar ada dalil tentang puasa tiga
hari dibulan Muharrom, yaitu puasa ‘asyuro’,
puasa sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya?.
Jawab: Syaikhuna Yahya Al-Hajuriy -semoga
ampunan Alloh untuknya- pernah ditanya:
ﻫﻞ ﻭﺭﺩ ﻓﻲ ﺻﻮﻡ ﻋﺎﺷﻮﺭﺍﺀ ﺣﺪﻳﺚ : ‏« ﺻﻮﻣﻮﺍ ﻳﻮﻣًﺎ ﻗﺒﻠﻪ ﺃﻭ
ﻳﻮﻣًﺎ ﺑﻌﺪﻩ‏» ؟ .
“Apakah shohih pada puasa ‘asyuro’ ada hadits:
“Berpuasalah kalian sehari sebelumnya dan sehari
setelahnya”?, beliau -semoga ampunan Alloh
untuknya- menjawab:
ﻻ ﺃﻋﺮﻑ ﺣﺪﻳﺜًﺎ ﺛﺎﺑﺘًﺎ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺘﻌﻴﻴﻦ، ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ :
‏«ﻟﺌﻦ ﺑﻘﻴﺖ ﺇﻟﻰ ﻗﺎﺑﻞ ﻷﺻﻮﻣﻦ ﺍﻟﺘﺎﺳﻊ ‏» ، ﻋﺰﻡ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ
ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺁﻟﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻥ ﻳﺼﻮﻡ ﺍﻟﺘﺎﺳﻊ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﻌﺎﺷﺮ، ﺃﻣﺎ
ﺑﻌﺪﻩ ﻓﺘﺤﺮﻱ ﺫﻟﻚ ﻟﻴﺲ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﻨﺔ .
“Aku tidak mengetahui ada satu hadits shohihpun
pada penentuan ini, hanya saja Nabi
(‘Alaihissholatu wassalam) berkata: “Kalaulah aku
masih hidup sampai tahun depan maka sungguh
aku akan berpuasa pada hari yang ke sembilan”.
Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bertekad untuk
puasa pada hari kesembilan sebelum hari
kesepuluh, adapun setelahnya, maka memilih
(puasa padanya) bukanlah termasuk dari sunnah”.
Demikian pendapat Syaikhuna Yahya Al-Hajuriy –
semoga Alloh mengampuninya-. Baca lebih lanjut