» ADAB-ADAB BERPUASA ROMADHON .:: Darul-Ilmi ::.

ADAB-ADAB BERPUASA ROMADHON
Saudaraku kaum muslimin rohimaniyallohu wa
iyyakum ajma’in ….
Tanpa terasa, sebentar lagi Bulan nan Suci
Romadhon tiba kembali. Sebagai seorang muslim
dan mu’min, tentu kita sangat berbahagia sekali
seandainya saja Alloh Subhanahu wa Ta’ala benar-
benar memberikan kesempatan kepada kita lagi
untuk memasuki bulan Romadhon tersebut, dan
Alloh juga memberikan taufiq kepada kita sekalian,
untuk dimudahkan dalam menunaikan rangkaian
ibadah puasa di bulan Romadhon tahun ini, dan
mengisinya dengan berbagai amal sholih dan
ketaatan.
Ya, hal ini mengingat, bahwa banyak saudara-
saudara kita kaum muslimin, yang Romadhon
tahun lalu masih bersama kita, tapi pada bulan
Romadhon tahun ini telah tiada dan mendahului
kita berpulang ke Rohmatulloh Ta’ala. Maka kita
pun berharap, mudah-mudahan Alloh Ta’ala masih
memberikan kesempatan kepada kita untuk
menunaikan ibadah puasa di tahun ini, yang
waktunya tinggal sebentar lagi.
Dan untuk menyambut datangnya bulan suci
Romadhon kali ini, kami ingin berbagi ilmu kepada
segenap saudara kami kaum muslimin, khususnya
tentang Adab-Adab Berpuasa Romadhon. Ya,
tentunya harapan kami dan kita semuanya, semoga
ibadah puasa kita benar-benar menjadi amalan
sholih yang diterima oleh Alloh Subhanahu wa
Ta’ala, dan menjadi amalan yang diridhoi-Nya dan
dibalas-Nya dengan jannah-Nya yang tinggi dan
mulia.
Diantara adab-adab tersebut adalah :

Pertama : Hendaknya kita ikhlas karena Alloh
Ta’ala dalam menjalankan kewajiban puasa di
Bulan Romadhon ini.
Dan yang dimaksud dengan ikhlas disini adalah :
“Suatu perbuatan atau amalan, yang dimaksudkan
dengannya untuk mencari keridhoan Alloh Ta’ala,
bukan karena yang lainnya.” ( Bahjatun Nadhirin,
Syarh Riyadhis Sholihin , 1/29)
Ya, karena ikhlas itu adalah syarat diterimanya
suatu amalan. Tanpa keikhlasan, amalan kita sia-
sia, dan tidak ada nilainya di sisi Alloh Ta’ala.
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
ﻭَﻣَﺎٓ ﺃُﻣِﺮُﻭٓﺍْ ﺇِﻟَّﺎ ﻟِﻴَﻌۡﺒُﺪُﻭﺍْ ﭐﻟﻠَّﻪَ ﻣُﺨۡﻠِﺼِﻴﻦَ ﻟَﻪُ ﭐﻟﺪِّﻳﻦَ ﺣُﻨَﻔَﺎٓﺀَ
ﻭَﻳُﻘِﻴﻤُﻮﺍْ ﭐﻟﺼَّﻠَﻮٰﺓَ ﻭَﻳُﺆۡﺗُﻮﺍْ ﭐﻟﺰَّﻛَﻮٰﺓَۚ ﻭَﺫَٰﻟِﻚَ ﺩِﻳﻦُ ﭐﻟۡﻘَﻴِّﻤَﺔِ ٥
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya
menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan
kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang
lurus (yakni dengan ikhlas, edt.), dan supaya
mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat;
dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS
Al-Bayyinah : 5)
Alloh Ta’ala juga berfirman :
ﻣَﻦ ﻛَﺎﻥَ ﻳُﺮِﻳﺪُ ﭐﻟۡﺤَﻴَﻮٰﺓَ ﭐﻟﺪُّﻧۡﻴَﺎ ﻭَﺯِﻳﻨَﺘَﻬَﺎ ﻧُﻮَﻑِّ ﺇِﻟَﻴۡﻬِﻢۡ ﺃَﻋۡﻤَٰﻠَﻬُﻢۡ ﻓِﻴﻬَﺎ
ﻭَﻫُﻢۡ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻟَﺎ ﻳُﺒۡﺨَﺴُﻮﻥَ ١٥ ﺃُﻭْﻟَٰٓﺌِﻚَ ﭐﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻟَﻴۡﺲَ ﻟَﻬُﻢۡ ﻓِﻲ ﭐﻟۡﺄٓﺧِﺮَﺓِ
ﺇِﻟَّﺎ ﭐﻟﻨَّﺎﺭُۖ ﻭَﺣَﺒِﻂَ ﻣَﺎ ﺻَﻨَﻌُﻮﺍْ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻭَﺑَٰﻄِﻞٞ ﻣَّﺎ ﻛَﺎﻧُﻮﺍْ ﻳَﻌۡﻤَﻠُﻮﻥَ ١٦
“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia
dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada
mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan
sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan
dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak
memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan
lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka
usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah
mereka kerjakan.” (QS Hud : 15-16)
Amalan, bila tidak ikhlas karena Alloh, dan hanya
karena riya’ kepada manusia (yakni ingin dilihat
dan mendapat pujian dari manusia, atau ingin
mendapatkan kesenangan dunia), tentulah sia-sia
belaka amalannya itu.
Alloh Ta’ala juga berfirman :
ﻳَٰٓﺄَﻳُّﻬَﺎ ﭐﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍْ ﻟَﺎ ﺗُﺒۡﻄِﻠُﻮﺍْ ﺻَﺪَﻗَٰﺘِﻜُﻢ ﺑِﭑﻟۡﻤَﻦِّ ﻭَﭐﻟۡﺄَﺫَﻯٰ ﻛَﭑﻟَّﺬِﻱ
ﻳُﻨﻔِﻖُ ﻣَﺎﻟَﻪُۥ ﺭِﺋَﺎٓﺀَ ﭐﻟﻨَّﺎﺱِ ﻭَﻟَﺎ ﻳُﺆۡﻣِﻦُ ﺑِﭑﻟﻠَّﻪِ ﻭَﭐﻟۡﻴَﻮۡﻡِ ﭐﻟۡﺄٓﺧِﺮِۖ ﻓَﻤَﺜَﻠُﻪُۥ
ﻛَﻤَﺜَﻞِ ﺻَﻔۡﻮَﺍﻥٍ ﻋَﻠَﻴۡﻪِ ﺗُﺮَﺍﺏٞ ﻓَﺄَﺻَﺎﺑَﻪُۥ ﻭَﺍﺑِﻞٞ ﻓَﺘَﺮَﻛَﻪُۥ ﺻَﻠۡﺪٗﺍۖ ﻟَّﺎ
ﻳَﻘۡﺪِﺭُﻭﻥَ ﻋَﻠَﻰٰ ﺷَﻲۡﺀٖ ﻣِّﻤَّﺎ ﻛَﺴَﺒُﻮﺍْۗ ﻭَﭐﻟﻠَّﻪُ ﻟَﺎ ﻳَﻬۡﺪِﻱ ﭐﻟۡﻘَﻮۡﻡَ ﭐﻟۡﻜَٰﻔِﺮِﻳﻦَ
٢٦٤
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan
menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si
penerima), seperti orang yang menafkahkan
hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak
beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka
perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di
atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa
hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak
bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun
dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang yang
kafir.” (QS Al-Baqoroh : 264)
Dalam hadits Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu,
Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam
berabda :
ﻣﻦ ﺻﺎﻡ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺍﻳﻤﺎﻧﺎ ﻭﺍﺣﺘﺴﺎﺑﺎ ﻏﻔﺮ ﻟﻪ ﻣﺎ ﺗﻘﺪﻡ ﻣﻦ ﺫﻧﺒﻪ
“Barangsiapa berpuasa Romadhon karena iman dan
ihtisab (mengharap pahala kepada Alloh Ta’ala),
maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah
lalu.” (HR Imam Al-Bukhori no. 1901 dan Imam
Muslim no. 760 dan yang lainnya)
Semoga Alloh Ta’ala senantiasa memberikan taufiq
pada kita untuk menguatkan keikhlasan kita dalam
menjalankan ibadah puasa Romadhon nanti, dan
menjauhkan kita dari riya’ maupun sum’ah.
Adab Yang Kedua : Selama kita dalam keadaan
berpuasa, berusahalah untuk menahan diri atau
menjauhkan diri dari semua hal yang membatalkan
puasa, atau yang bisa mengurangi nilai pahala
puasa, dimulai dari sejak terbit fajar shodiq di
waktu Shubuh, sampai tenggelamnya matahari di
waktu maghrib.
Dalil yang menunjukkan hal itu adalah firman Alloh
Ta’ala :
ﺃُﺣِﻞَّ ﻟَﻜُﻢۡ ﻟَﻴۡﻠَﺔَ ﭐﻟﺼِّﻴَﺎﻡِ ﭐﻟﺮَّﻓَﺚُ ﺇِﻟَﻰٰ ﻧِﺴَﺎٓﺋِﻜُﻢۡۚ ﻫُﻦَّ ﻟِﺒَﺎﺱٞ ﻟَّﻜُﻢۡ
ﻭَﺃَﻧﺘُﻢۡ ﻟِﺒَﺎﺱٞ ﻟَّﻬُﻦَّۗ ﻋَﻠِﻢَ ﭐﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻧَّﻜُﻢۡ ﻛُﻨﺘُﻢۡ ﺗَﺨۡﺘَﺎﻧُﻮﻥَ ﺃَﻧﻔُﺴَﻜُﻢۡ ﻓَﺘَﺎﺏَ
ﻋَﻠَﻴۡﻜُﻢۡ ﻭَﻋَﻔَﺎ ﻋَﻨﻜُﻢۡۖ ﻓَﭑﻟۡـَٰٔﻦَ ﺑَٰﺸِﺮُﻭﻫُﻦَّ ﻭَﭐﺑۡﺘَﻐُﻮﺍْ ﻣَﺎ ﻛَﺘَﺐَ ﭐﻟﻠَّﻪُ ﻟَﻜُﻢۡۚ
ﻭَﻛُﻠُﻮﺍْ ﻭَﭐﺷۡﺮَﺑُﻮﺍْ ﺣَﺘَّﻰٰ ﻳَﺘَﺒَﻴَّﻦَ ﻟَﻜُﻢُ ﭐﻟۡﺨَﻴۡﻂُ ﭐﻟۡﺄَﺑۡﻴَﺾُ ﻣِﻦَ ﭐﻟۡﺨَﻴۡﻂِ
ﭐﻟۡﺄَﺳۡﻮَﺩِ ﻣِﻦَ ﭐﻟۡﻔَﺠۡﺮِۖ ﺛُﻢَّ ﺃَﺗِﻤُّﻮﺍْ ﭐﻟﺼِّﻴَﺎﻡَ ﺇِﻟَﻰ ﭐﻟَّﻴۡﻞِۚ ﻭَﻟَﺎ ﺗُﺒَٰﺸِﺮُﻭﻫُﻦَّ
ﻭَﺃَﻧﺘُﻢۡ ﻋَٰﻜِﻔُﻮﻥَ ﻓِﻲ ﭐﻟۡﻤَﺴَٰﺠِﺪِۗ ﺗِﻠۡﻚَ ﺣُﺪُﻭﺩُ ﭐﻟﻠَّﻪِ ﻓَﻠَﺎ ﺗَﻘۡﺮَﺑُﻮﻫَﺎۗ
ﻛَﺬَٰﻟِﻚَ ﻳُﺒَﻴِّﻦُ ﭐﻟﻠَّﻪُ ﺀَﺍﻳَٰﺘِﻪِۦ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ ﻟَﻌَﻠَّﻬُﻢۡ ﻳَﺘَّﻘُﻮﻥَ ١٨٧
“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan
puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu;
mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun
adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui
bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu,
karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi
maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah
mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan
Allah untukmu, dan makan minumlah hingga
terang bagimu benang putih dari benang hitam,
yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu
sampai (datang) malam , (tetapi) janganlah kamu
campuri mereka itu, sedang kamu beri´tikaf dalam
mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu
mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan
ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka
bertakwa.” (QS Al-Baqoroh : 187)
Ayat tersebut menunjukkan, bolehnya makan,
minum dan berjima’, sampai ketika terbitnya fajar
(yakni menjelang terbitnya fajar shodiq), lalu
setelah itu hendaknya berpuasa (yakni menahan
diri dari makan, minum, berjima’ dan perkara
lainnya yang membatalkan puasa), dan
menyempurnakan puasanya itu sepanjang siang
harinya hingga datangnya malam (yakni awal
malam dengan tenggelamnya matahari di waktu
Maghrib).
Ketahuilah, kedua perkara tersebut, yakni niat dan
menahan diri dari semua hal yang membatalkan
puasa, adalah “rukun utama berpuasa” . Tanpa
keduanya atau tanpa salah satunya, maka puasa
kita tidaklah sah.
Lalu, apa saja hal-hal yang bisa membatalkan
puasa itu ?
Berdasarkan dalil-dalil yang shohih, ada beberapa
perkara yang bisa membatalkan puasa, diantaranya
:
Makan dan Minum dengan sengaja
Berdasarkan sebuah hadits dari Abu Huroiroh
rodhiyallohu ‘anhu, bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi
wa sallam bersabd
ﻣﻦ ﻧﺴﻲ ﻭﻫﻮ ﺻﺎﺋﻢ ﻓﺎﻛﻞ ﺍﻭ ﺷﺮﺏ ﻓﻠﻴﺘﻢ ﺻﻮﻣﻪ ﻓﺈﻧﻤﺎ
ﺃﻃﻌﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺳﻘﺎﻩ
“Barangsiapa lupa, sedangkan dia dalam keadaan
berpuasa, lalu dia makan dan minum (tanpa
sengaja, edt.), maka hendaknya dia
menyempurnakan puasanya (yakni tetap
meneruskan puasanya ketika dia ingat, edt.),
karena sesungguhnya hanyalah Alloh memberi
makan dan minum kepadanya (dengan lupanya
tersebut, edt.).” (HR Imam Al-Bukhori dalam Fathul
Bari (4/155) no. 1923 dan Imam Muslim (2/809)
no. 1155 dan selain keduanya)
Hadits tersebut menunjukkan, bila makan dan
minum karena lupa adalah tidak membatalkan
puasa, maka tentunya adalah sebaliknya, bila
makan dan minum itu dengan kesengajaan, berarti
hal itu adalah membatalkan puasanya, wallohu
a’lam bis showab.
Muntah dengan sengaja
Juga berdasarkan sebuah hadits dari Abu Huroiroh
rodhiyallohu ‘anhu :
ﻣﻦ ﺫﺭﻋﻪ ﺍﻟﻘﻲﺀ ﻓﻠﻴﺲ ﻋﻠﻴﻪ ﻗﻀﺎﺀ، ﻭ ﻣﻦ ﺍﺳﺘﻘﺎﺀ ﻋﻤﺪﺍ
ﻓﻠﻴﻘﺾ
“Barangsiapa mengalami muntah (tanpa sengaja),
maka tidak ada qodho’ baginya. Tetapi
barangsiapa muntah dengan sengaja, maka
hendaknya dia mengqodho’ (puasanya).” (HR Imam
At-Tirmidzi (2/111) no. 716, Abu Dawud (7/6) no.
2363 dan Ibnu Majah (1/536) no. 1676,
dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani rohimahulloh
dalam Shohih Al-Jami’ no. 6243)
Bagi Wanita, dia mengalami Haid dan Nifas
Wanita yang sedang berpuasa, kemudian
mengalami haid ataupun nifas, meskipun waktu
berbuka puasa tinggal sebentar/sesaat lagi, maka
puasanya tersebut batal, berdasarkan kesepakatan
para ulama akan hal ini.
Dan para ulama pun juga sepakat, bahwa puasa itu
tidak wajib bagi wanita yang mengalami haid dan
nifas. Kalaupun mereka berpuasa, tidak sah
puasanya, bahkan harom atas mereka berpuasa.
Bila mereka tidak berpuasa, wajib mengqodho’ atas
mereka. Ini adalah kesepakatan para ulama,
wallohu a’lam. (lihat : Al-Majmu’ Syarh Al-
Muhadzdzab (6/256) karya Al-Imam An-Nawawi,
Al-Mughni (3/34) karya Al-Imam Ibnu Qudamah,
Al-Muhalla (no. 376) karya Al-Imam Ibnu Hazm
dan kitab Syarh Kitabus Shiyam (1/244) )
Dalil yang menunjukkan hal itu, adalah hadits
Aisyah rodhiyallohu anha tentang wanita yang
mengalami haid dan nifas yang kemudian tidak
berpuasa, maka beliau berkata : “Kami (para
wanita) diperintah untuk mengqodho’ puasa, dan
tidak diperintah untuk mengqodho’ sholat.” (HR
Imam Al-Bukhori no. 321 dan Imam Muslim no.
335)
Berjima’ (melakukan hubungan suami istri) di
siang hari Romadhon
Dalilnya adalah hadits Abu Huroiroh rodhiyallohu
anhu, tentang seseorang yang menggauli istrinya
di siang hari bulan Romadhon, maka Rosululloh
shollallohu ‘alaihi wa sallam memberikan hukuman
kepadanya agar membayar kaffaroh (denda) berupa
membebaskan seorang budak. Kalau tidak mampu,
maka berpuasa selama dua bulan berturut-turut.
Kalau tidak mampu juga, maka hendaknya
memberi makan kepada 60 orang fakir miskin. (HR
Imam Al-Bukhori (4/163) no. 1936 dan Imam
Muslim (2/781) no. 1111 dan selain keduanya)
Dalil tersebut menunjukkan, bahwa melakukan
jima’ di siang hari Romadhon adalah membatalkan
puasa, bahkan pelakunya juga akan dikenai
kaffaroh karenanya, wallohu a’lamu bis showab.
Demikian itulah beberapa perkara yang termasuk
pembatal-pembatal puasa.
Kemudian, apa pula hal-hal yang termasuk dalam
perkara yang bisa mengurangi nilai pahala dan
keutamaan berpuasa itu ?
Diantaranya adalah sebagai berikut :
Melakukan dosa-dosa dan kemaksiatan
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu
Huroiroh rodhiyallohu anhu, bahwa Rosululloh
shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :
ﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﺪﻉ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﺰﻭﺭ ﻭﺍﻟﻌﻤﻞ ﺑﻪ ﻭﺍﻟﺠﻬﻞ، ﻓﻠﻴﺲ ﻟﻠﻪ ﺣﺎﺟﺔ
ﻓﻲ ﺃﻥ ﻳﺪﻉ ﻃﻌﺎﻣﻪ ﻭﺷﺮﺍﺑﻪ
“Barangsiapa yang tidak bisa meninggalkan
perkataan dusta dan (justru) dia beramal
dengannya, dan (tidak meninggalkan pula) berbuat
bodoh (yakni melakukan hal-hal yang tidak ada
manfaatnya, edt.), maka Alloh tidak berhajat (tidak
membutuhkan) terhadap (perbuatan dia)
meninggalkan makan dan minumnya itu (yakni
puasanya itu, edt.).” (HR Imam Al-Bukhori no.
6057)
Al-Imam As- Shon’ani rohimahulloh berkata :
“Hadits ini adalah dalil yang menunjukkan
haramnya berdusta dan melakukannya, dan juga
haramnya melakukan perbuatan bodoh bagi orang
yang berpuasa. Kedua perbuatan tersebut
diharamkan juga bagi selain orang yang berpuasa.
Hanya saja keharamannya bagi orang yang
berpuasa lebih ditekankan lagi, sebagaimana
penekanan haramnya perbuatan zina bagi seorang
laki-laki yang telah tua (kakek-kakek) atau
haramnya sombong bagi orang yang miskin
(meskipun zina ataupun kesombongan itu tetap
haram bagi semua orang, edt.).” (Subulus Salam ,
4/126)
Al-Imam Al-Auza’i rohimahulloh berpendapat,
bahwa ghibah (membicarakan aib orang lain tanpa
diketahui oleh orang yang dibicarakannya) adalah
membatalkan puasa. Sedangkan Al-Imam Ibnu
Hazm rohimahulloh menganggap bahwa ghibah
termasuk kemaksiatan, dan kemaksiatan itu
membatalkan puasa. Kedua ulama tersebut berdalil
dengan hadits Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu
yang telah disebutkan di atas.
Demikian pula berdalil dengan hadits Abu Huroiroh
rodhiyallohu anhu dalam riwayat yang lainnya,
bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam
bersabda :
ﺭﺏ ﺻﺎﺋﻢ ﻟﻴﺲ ﻟﻪ ﻣﻦ ﺻﻴﺎﻣﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﺠﻮﻉ، ﻭﺭﺏ ﻗﺎﺋﻢ ﻟﻴﺲ
ﻟﻪ ﻣﻦ ﻗﻴﺎﻣﻪ ﺇﻻ ﺍﺳﻬﺮ
“Betapa banyaknya orang yang berpuasa, dia tidak
mendapatkan apapun dari puasanya itu kecuali
hanya lapar saja. Dan betapa banyaknya pula
orang yang bangun (di waktu malam), dia tidak
mendapatkan apapun dari bangunnya tersebut
kecuali (sekedar) begadang saja.” (HR Imam
Ahmad dalam Al-Musnad (2/373) dan An-Nasa’i
dalam Sunan Al-Kubro (2/239), sanadnya shohih)
Berbeda dengan pendapat di atas, mayoritas ulama
berpendapat, bahwa dusta, ghibah dan lainnya itu
adalah dianggap sebagai suatu kemaksiatan
(kedurhakaan dan dosa besar), tetapi tidak sampai
membatalkan puasa.
Adapun dalil-dalil mereka dengan beberapa hadits
yang telah disebutkan di atas, dibantah dan
dijelaskan oleh Al-Imam An-Nawawi rohimahuloh
sebagai berikut : “Para sahabat kami (yakni para
ulama madzhab Syafi’iyyah) memberikan jawaban
atas hadits-hadits ini, bahwa yang dimaksud
dengannya adalah (mengurangi) kesempurnaan
puasa (bukan membatalkannya, edt.). Dan bahwa
keutamaan yang dituntut (dalam ibadah puasa)
adalah dengan menjaga puasanya itu dari perkara-
perkara yang sia-sia, dan dari perkataan-perkataan
yang rendah (yang kotor dan jelek). Bukan
maknanya bahwa puasa itu akan batal
karenanya.” ( Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab ,
6/356)
Disamping itu pula, dalam hadits disebutkan,
bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam masih
menetapkan puasa baginya, tetapi tidak
menetapkan pahala baginya (yakni berkurang
pahalanya), dalam sabda beliau : (“ dia tidak
mendapatkan apapun dari puasanya itu kecuali
hanya lapar saja”) . Demikian juga dalam hadits
Qudsi dijelaskan, Alloh Ta’ala berfirman : “Wahai
hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat salah
(dosa) di siang dan malam hari, sedangkan Aku
akan mengampuni semua dosa-dosa…..” (HR
Imam Muslim no. 2577, dari Abu Dzar rodhiyallohu
‘anhu)
Kesimpulannya, perbuatan dosa-dosa besar atau
maksiat yang dilakukan oleh orang yang berpuasa,
tidaklah membatalkan puasanya, hanya saja
pahalanya berkurang karenanya, wallohu a’lamu
bis showab.
(lihat : Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab (6/356),
Al-Muhalla (no. 734) dan Ithaful Anam bi Ahkaami
wa Masaailis Shiyam (hal. 66-67), karya guru kami,
As-Syaikh Muhammad bin Ali bin Hizam
hafidzhohulloh)
Melakukan hal yang sia-sia
Contohnya adalah seperti : begadang sampai
malam tapi tidak diisi dengan ibadah, atau
menghabiskan waktu di siang hari dengan
menonton televisi berjam-jam, atau bercanda, main
game (permainan di internet), tidur-tiduran,
bermalas-malasan dan lain-lain, yang semuanya
tidak ada manfaatnya, baik dalam urusan dunia
apalagi urusan akhiratnya.
Termasuk hal yang harus dijauhi adalah bertengkar
atau berbantah-bantahan. Sebagaimana disebutkan
dalam hadits Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu,
bahwa Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa
sallam bersabda :
ﻓﺈﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻳﻮﻡ ﺻﻮﻡ ﺃﺣﺪﻛﻢ ﻓﻼ ﻳﺮﻓﺚ ﻭﻻ ﻳﺴﺨﺐ، ﻓﺈﻥ
ﺍﻣﺮﺅ ﺷﺎﺗﻤﻪ ﺃﻭ ﻗﺎﺗﻠﻪ ﻓﻠﻴﻘﻞ ﺇﻧﻲ ﺻﺎﺋﻢ
“Apabila salah seorang dari kalian berpuasa, maka
janganlah kalian berbuat rofats (yakni berkata-kata
yang keji/yang jelek) dan jangan berbantah-
bantahan atau berteriak-teriak. Bila ada orang yang
mencelanya atau mengajaknya bertengkar,
hendaknya dia mengatakan kepadanya :
“Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (HR Imam
Al-Bukhori no. 1904 dan Imam Muslim no. 1151)
Makna hadits : (“ hendaknya dia mengatakan
kepadanya : “Sesungguhnya aku sedang
berpuasa” ), dijelaskan oleh Al-Imam An-Nawawi
rohimahulloh : “Para ulama menyebutkan (tentang
maknanya), ada dua penakwilan/penafsiran :
Pertama : Dia mengatakan dengan lisannya dan
memperdengarkan kepada temannya tersebut
(yang mengajaknya bertengkar, edt.), untuk
menghardiknya/memperingatkan terhadap dirinya
(yakni bahwa ini sedang berpuasa, jangan
diganggu, edt.) Kedua : Dia berkata dengan
hatinya, bukan dengan lisannya. Bahkan cukuplah
dia membisikkan pada dirinya sendiri, dan
memperingatkan pada hatinya tersebut bahwa dia
sedang berpuasa, tidak pantas berbuat kebodohan,
saling mencela, dan berkumpul bersama orang-
orang yang suka mencela.” (Al-Majmu’ Syarh Al-
Muhadzdzab , 6/356)
Imam Nawawi rohimahulloh kemudian juga
menegaskan : “Kedua penakwilan/penafsiran
tersebut sangat kuat, tetapi yang pertama lebih
kuat. Seandainya menggabungkan keduanya, maka
hal itu adalah bagus.”
Dan dhohirnya hadits, menunjukkan kuatnya
makna yang pertama, wallohu a’lamu bis showab.
(Ithaaful Anam , hal. 67-68)
Adab Yang Ketiga : Memperhatikan dengan baik
dalam pengamalan hukum-hukum seputar
berpuasa Romadhon, baik tentang tata cara makan
sahurnya, tata cara berbukanya, dan semua hal
yang terkait dengan hukum-hukum puasa
Romadhon, dan juga penyempurnanya, seperti
masalah sholat tarowih, zakat fitrah, berhari raya
dan sebagainya.
Dan semua itu, tidak akan bisa kita lakukan
dengan baik dan benar sesuai sunnah (tuntunan/
petunjuk) Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam,
kecuali dengan mempelajari hukum-hukumnya
yang benar lebih dahulu, apakah hal itu dengan
kita datang dan menghadiri majelis-majelis ta’lim
yang membahas tentang hukum-hukum seputar
puasa, atau membaca buku-buku dan karya tulis
tentang puasa, atau mendengarkan rekaman-
rekaman atau kaset-kaset dakwah yang
menjelaskan tentang puasa, dan berbagai fasilitas
yang saat ini sangat banyak untuk mengetahui
hukum-hukum puasa yang benar. Sehingga, tidak
ada alasan bagi kita tidak mau belajar, atau tidak
peduli sama sekali terhadap ilmu agama ini.
Hal itu karena, bila kita telah mengetahui ilmunya,
insya Alloh akan membantu kita untuk benar
dalam pengamalannya. Bila benar pengamalannya,
insya Alloh amal kita akan diterima oleh Alloh,
sebagai ibadah yang kelak akan mendapat balasan
yang besar dari-Nya berupa surga-Nya.
Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda
:
ﻣﻦ ﻋﻤﻞ ﻋﻤﻼ ﻟﻠﻴﺲ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻣﺮﻧﺎ ﻓﻬﻮ ﺭﺩ
“Barangsiapa beramal dengan suatu amalan yang
tidak ada perintahnya dari kami, maka amalannya
tersebut tertolak (yakni tidak diterima, edt.).” (HR
Imam Muslim ).
Dan beberapa permasalahan tentang hukum-
hukum seputar puasa, telah kami bahas sekitar
dua tahun atau setahun yang lalu dalam situs ini
pula, silahkan dilihat kembali, semoga membantu
dan bermanfaat.
Adab Yang Keempat : Mengisi hari-hari selama
berpuasa Romadhon dengan memperbanyak
ibadah dan amal sholih. Selain berpuasa
Romadhon itu sendiri, hendaknya juga
memperbanyak untuk membaca Al-Qur’an dan
bershodaqoh, menegakkan sholat-sholat sunnah
dan lain-lain.
Membaca Al-Qur’an
Dalam hadits Ibnu Abbas rodhiyallohu anhuma,
beliau berkata :
“Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam itu adalah
orang yang paling pemurah/dermawan diantara
manusia. Beliau lebih pemurah lagi saat bulan
Romadhon, yakni ketika berjumpa dengan malaikat
Jibril. Dahulu Jibril menghampiri Nabi shollallohu
‘alaihi wa sallam setiap malam di bulan Romadhon,
untuk bertadarrus (memaparkan) Al-Qur’an pada
beliau. Dan sungguh, ketika berjumpa dengan
Jibril, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam itu
adalah lebih pemurah dalam melakukan kebaikan,
daripada angin yang berhembus.” (HR Imam Al-
Bukhori no. 6 dan Imam Muslim no. 2308)
Hadits tersebut di atas menunjukkan
disunnahkannya untuk memperbanyak membaca
Al-Qur’an, lebih-lebih di bulan suci Romadhon ini,
karena di bulan suci inilah Al-Qur’an pertama kali
diturunkan.
Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam juga pernah
mendorong kita untuk membaca Al-Qur’an dalam
sabda beliau :
ﺍﻗﺮﺅﺍ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻓﺈﻧﻪ ﻳﺄﺗﻲ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﺷﻔﻴﻌﺎ ﻷﺻﺎﺑﻪ
“Bacalah oleh kalian Al-Qur’an, karena Al-Qur’an
itu akan datang pada hari kiamat nanti sebagai
pemberi syafa’at (penolong/pembela) bagi orang
yang membacanya.” (HR Imam Muslim no. 804
dari Abu Umamah rodhiyallohu ‘anhu)
Disamping itu, dengan memperbanyak membaca
Al-Qur’an, semakin banyak pula kebaikan yang
akan kita peroleh, karena setiap huruf dari Al-
Qur’an yang kita baca, akan dibalas oleh Alloh
dengan satu kebaikan hingga dilipatgandakan
sepuluh kali lipatnya. Sebagaimana yang
dinyatakan dalam sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa
sallam :
ﻣﻦ ﻗﺮﺃ ﺣﺮﻓﺎ ﻥ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻠﻪ ﺣﺴﻨﺔ، ﻭﺍﻟﺤﺴﻨﺔ ﺑﻌﺸﺮ
ﺃﻣﺜﺎﻟﻬﺎ . ﻻ ﺃﻗﻮﻝ ﺍﻟﻢ ﺣﺮﻑ، ﻭﻟﻜﻦ ﺃﻟﻒ ﺣﺮﻑ ﻭﻻﻡ ﺣﺮﻑ
ﻭﻣﻴﻢ ﺣﺮﻑ
“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabulloh
(Al-Qur’an), maka baginya satu kebaikan. Dan
satu kebaikan itu akan dibalas (dilipatgandakan)
sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan, “alif
lam mim” itu satu huruf. Tetapi alif itu satu huruf,
lam itu satu huruf dan mim itu satu huruf.” (HR
Imam At-Tirmidzi (5/175) dan beliau berkata :
“Hadits ini Hasan Shohih”. Dan dishohihkan oleh
Syaikh Al-Albani rohimahulloh dalam As-Shohihah
(2/263), beliau berkata : “Sanadnya jayyid/bagus.”)
Para Salafus Sholih telah memberikan contoh
kepada kita untuk menghidupkan bulan Romadhon
ini dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an,
baik siang maupun malam harinya. Diantara
mereka adalah sahabat yang mulia, Utsman bin
Affan rodhiyallohu ‘anhu, beliau mengkhatamkan
Al-Qur’an di dalam sholat witirnya (sholat
malamnya). Bahkan, Imam As-Syafi’i rohimahulloh
dan yang lainnya mengkhatamkan Al-Qur’an dalam
sehari dua kali.
Ustman rodhiyallolhu ‘anhu pernah berkata :
“Sekiranya hati kita ini bersih, maka kita tidak akan
puas membaca Al-Qur’an (yakni, akan tetap terus
membaca dan mengulang-ulanginya, meskipun
harus berulang kali mengkhatamkannya, edt.)
.” (Ighotsatul Lahfan min Mashoyidisy Syaithon ,
1/64)
Ibnu Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu juga pernah
menyampaikan : “Ada tiga hal, yang barangsiapa
tiga hal itu ada pada dirinya, maka Alloh Ta’ala
akan memenuhi hatinya dengan keimanan : (1)
Mencintai orang-orang yang faqih (para ulama,
edt,), (2) Membaca Al-Qur’an, (3) Melakukan
puasa.” (Al-Adabus Syar’iyyah , 3/544)
Demikianlah. Maka sepantasnya kita jadikan bulan
Romadhon ini sebagai pemacu semangat kita
untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an, dan
jadikanlah Al-Qur’an sebagai teman dan bacaan
kita setiap hari, jangan lewatkan sehari pun dari
membaca Al-Qur’an.
Berinfaq dan Bershodaqoh
Kemudian, termasuk amalan yang sangat
dianjurkan di bulan Romadhon nan suci lagi mulia
ini adalah berinfaq dan bershodaqoh. Lebih-lebih,
dalam bentuk memberikan makanan dan berbuka
puasa bagi orang-orang yang berpuasa.
Sebagaimana disebutkan dalam hadits Zaid bin
Kholid Al-Juhany rodhiyallohu anhu, bahwa Nabi
shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :
ﻣﻦ ﻓﻄﺮ ﺻﺎﺋﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻟﻪ ﻣﺜﻞ ﺃﺟﺮﻩ ﻏﻴﺮ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﻨﻘﺺ ﻣﻦ
ﺃﺟﺮ ﺍﻟﺼﺎﺋﻢ ﺷﻲﺀ
“Barangsiapa memberikan makanan berbuka puasa
bagi orang yang berpuasa, maka dia mendapat
pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa
mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit
pun.” (HR Imam At-Tirmidzi no. 807, dan beliau
berkata : “Hadits ini Hasan Shohih.” Dishohihkan
pula oleh Syaikh Al-Albani rohimahulloh dalam
Hidayatur Ruwah (2/323), beliau berkata : “(Ya,
shohih) seperti yang beliau (Imam At-Tirmidzi)
katakan.”)
Para Salafus Sholih, adalah orang-orang yang
gemar memberikan hidangan berbuka puasa bagi
orang-orang yang berpuasa, dalam rangka
mengamalkan hadits tersebut di atas, diantaranya
seperti : Abdulloh bin ‘Amr, Imam Ahmad bin
Hambal, Malik bin Dinar, Abdulloh bin Mubarok dan
sebagainya.
Ya, bershodaqoh adalah kesempatan emas bagi
kita untuk mencari ridho Alloh dan maghfiroh-Nya
(ampunan-Nya) di bulan yang penuh berkah ini.
Termasuk dalam hal ini pula, adalah bershodaqoh
untuk fakir miskin, anak-anak yatim, orang-orang
yang membutuhkan santunan dan sebagainya, baik
itu kepada tetangga, kerabat dan siapa saja dari
kaum muslimin yang membutuhkan.
Sholat Lail (Sholat Tarowih)
Kemudian, ibadah yang tak kalah pentingnya untuk
kita amalkan adalah Sholat Lail (malam) di bulan
Romadhon, yang kita kenal dengan nama Sholat
Tarowih. Keutamaannya, dijelaskan dalam hadits
Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu, bahwa Rosululoh
shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :
ﻣﻦ ﻗﺎﻡ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺇﻳﻤﺎﻧﺎ ﻭﺍﺣﺘﺴﺎﺑﺎ ﻏﻔﺮ ﻟﻪ ﻣﺎ ﺗﻘﺪﻡ ﻣﻦ ﺫﻧﺒﻪ
“Barangsiapa bangun/mendirikan sholat malam di
bulan Romadhon karena Iman dan Ihtisab
(mengharap pahala kepada Alloh), akan diampuni
dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Imam Al-
Bukhori no. 2008 dan Imam Muslim no. 759 )
Dalam lafadz Imam Muslim, juga dalam hadits Abu
Huroiroh, beliau berkata : “Rosululloh shollallohu
‘alaihi wa sallam memberi semangat kepada kami
untuk bangun sholat malam di bulan Romadhon,
tetapi tanpa memerintah kami dengan
mengharuskan/mewajibkannya, beliau bersabda :
“Barangsiapa bangun/mendirikan sholat malam di
bulan Romadhon karena Iman dan Ihtisab
(mengharap pahala kepada Alloh), akan diampuni
dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Imam Muslim
no. 759)
Hadits tersebut menjelaskan salah satu fadhilah
(keutamaan) sholat tarowih, yakni Alloh Ta’ala
akan mengampuni dosa-dosa kita yang telah lalu.
Mengingat keutamaan seperti ini, tentu saja kita
semua jangan sampai menyia-nyiakannya.
Keutamaan lainnya, dijelaskan dalam hadits Amru
bin Murroh Al-Juhany rodhiyallohu ‘anhu :
“Salah seorang laki-laki dari Qudho’ah mendatangi
Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, lalu dia bertanya
: “Wahai Rosululloh, apa pendapat anda bila aku
telah bersyahadat (beraksi bahwa) laa ilaaha illalloh
(tidak ada Ilah/sesembahan yang haq kecuali
Alloh, edt.), dan (bersaksi pula bahwa) anda itu
adalah Rosululloh (utusan Alloh), dan aku juga
melakukan sholat lima waktu, aku berpuasa pada
bulan Romadhon, dan aku juga bangun (sholat lail)
di bulan Romadhon itu, serta aku menunaikan
zakat ?” Maka Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam
bersabda : “Barangsiapa mati di atas perkara ini
(semua), maka dia termasuk golongan para
Shiddiqin (orang-orang yang jujur/benar imannya)
dan golongan para Syuhada’ (orang-orang yang
mati syahid).” (HR Imam Ibnu Khuzaimah dalam
Shohih -nya (3/340) no. 2262 dan Ibnu Hibban
dalam Shohih -nya, dishohihkan oleh Syaikh Al-
Albani rohimahulloh dalam Shohih At-Targib wat
Tarhib (1/419) no. 993)
Agar kita juga mendapatkan fadhilah yang lebih
besar, hendaknya kita laksanakan sholat tarowih
tersebut dengan cara berjama’ah di masjid,
bersama dengan imamnya dan kaum muslimin
yang lainnya. Sebagaimana hal itu dijelaskan
dalam hadits Abu Dzar rodhiyallohu anhu, yang
menuturkan :
“Kami berpuasa Romadhon bersama Rosululloh
shollallohu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau tidak
sholat (tarowih) sedikitpun bersama kami dari
bulan itu hingga (Romadhon) tersisa 7 hari (yakni
pada malam ke-23 Romadhon, edt.). Lalu beliau
mengimami kami (untuk sholat tarowih) sampai
lewat sepertiga malam (yang pertama). Tatkala
tinggal 6 hari (yakni malam ke-24), beliau tidak
melakukannya. Kemudian ketika tinggal 5 hari
(malam ke-25 Romadhon), beliau mengimami kami
lagi sampai lewat pertengahan malam. Maka aku
katakan pada beliau : “Wahai Rosululloh,
seandainya saja anda menambahkan (sholat untuk
kami) sampai semalam penuh ?” Maka beliau
bersabda :
ﺇﻥ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺇﺫﺍ ﺻﻠﻰ ﻣﻊ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺣﺘﻰ ﻳﻨﺼﺮﻑ ﺣﺴﺐ ﻟﻪ ﻗﻴﺎﻡ
ﻟﻴﻠﺔ
“Sesungguhnya apabila seseorang itu sholat
bersama imamnya sampai selesai, akan dihitung
baginya telah sholat semalam suntuk (semalam
penuh).”
Kemudian, ketika tinggal 4 hari (malam ke-26),
beliau tidak melakukannya lagi. Lalu ketika
(Romadhon) tinggal 3 hari (malam ke-27), maka
beliau kumpulkan keluarganya, istri-istrinya dan
orang-orang lainnya, lalu mengimami kami, hingga
kami merasa takut kelewatan “al-falah”. (Lalu
perowi hadits ini bertanya kepada Abu Dzar 🙂
“Apakah al-falah itu ?” Dia menjawab : (yakni)
makan sahur.” Setelah itu beliau tidak mengimami
lagi dari sisa hari bulan Romadhon tersebut.” (HR
Ashabus Sunan dan yang lainnya, dishohihkan
oleh Syaikh Al-Albani rohimahulloh dalam Shohih
Abi Dawud no. 1245 dan Sholat Tarowih hal.
16-17)
Hadits tersebut menunjukkan, bahwa sholat
tarowih dengan cara berjama’ah itu disunnahkan,
dan lebih baik daripada sholat secara munfarid
(sendirian).
As-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
rohimahulloh menegaskan : “…sholat (tarowih)
yang dilakukan pada permulaan malam secara
berjama’ah (dibandingkan) dengan sholat (tarowih
yang dilakukan) pada akhir malam tetapi sendiri-
sendiri, maka sholat (tarowih) yang dilakukan
secara berjama’ah itu lebih utama (afdhol), karena
terhitung baginya qiyamul lail (sholat malam) yang
sempurna (semalam penuh).” (Qiyamur Romadhon ,
hal. 26)
Demikianlah beberapa adab yang perlu kita
perhatikan selama kita berpuasa Romadhon. Hal-
hal yang disebutkan di atas bukanlah pembatasan,
tetapi hanyalah sebagian saja dari adab-adab yang
bisa kita lakukan. Intinya, semua adab yang baik
menurut tuntunan syari’at, ataupun adab yang baik
menurut adat (kebiasaan) di masyarakat kita yang
tidak bertentangan dengan syari’at agama, maka
bisa kita lakukan dengan mengharap ridho dan
pahala dari Alloh Ta’ala. Sedangkan semua adab-
adab yang jelek, baik menurut syari’at agama atau
pun menurut adat, selayaknya kita tinggalkan dan
kita jauhi, agar tidak merusak ibadah puasa kita
atau mengurangi nilainya.
Semoga puasa Romadhon kita kali ini benar-benar
diterima oleh Aloh Ta’ala, dan banyak
keberkahannya. Dan Alloh Ta’ala memberikan
kekuatan kepada kita untuk bisa menunaikannya
hingga akhir Romadhon, hingga kita keluar darinya
menjadi hamba-hamba-Nya yang meraih predikat
TAKWA kepada-Nya. Amiin…ya mujibus sailiin .
(Disusun oleh : Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby,
pertengahan Sya’ban 1436 H)

http://www.darul-ilmi.com/2015/06/adab-adab-berpuasa-romadhon/#more-9065

sofyan assingkepy punggur batam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s