Assalaamu ‘Alaikum Warahmatullaah Wa Barakaatuh? | Tidak Ada Yang Lebih Benar dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah

Assalaamu ‘Alaikum Warahmatullaah Wa
Barakaatuh?
admin / 1 week ago
Arti Assalamu Alaikum Warahmatullah Wa
Barakatuh?
Sembari menunggu tulisan-tulisan kami yang lain
(mohon maaf kalau admin memang agak lelet
karena terlalu banyak kesibukan), maka pada
kesempatan ini Penulis ingin mencoba membahas
(baca: merefleksikan secara kritis) makna dari
ucapan “salam” yang sering kita sampaikan
sehari-hari.

Ucapan ini nampaknya sudah menjadi tradisi/
budaya di negeri kita, artinya tak cuma kaum
muslimin, beberapa masyarakat kafir dari kalangan
Ahlul Kitabpun mengucapkan ucapan ini kepada
umat (indvidu/kelompok) Islam sebagai bahasa
perjumpaan antar mereka di negeri ini, tapi tentu
tidak ditujukan kepada sesama mereka (inter kafir),
meski ada juga yang mengucapkan dengan nada-
nada atau redaksi yang agak mirip dalam bahasa
Ibrani.
Pembaca yang budiman, kira-kira kalau boleh kami
bertanya, apakah yang terlintas di benak Anda
ketika ada seseorang yang mengucapkan “salam”
kepada Anda?
Tentu jawabannya ada pada Anda, tapi paling tidak
yang cepat terbesit di benak Anda adalah segera
menjawabnya, karena sesungguhnya telah ada
banyak hadis yang bercerita tentang keutamaan
mengucapkan salam dan menjawabnya. Namun di
sini Penulis tidak akan fokus kesana, karena ruang
yang akan penulis isi kali adalah mengenai
maknanya, yang mudah-mudahan ketika penulis
menjelaskan tentang maknanya akan ada banyak
kebahagiaan yang Anda rasakan ketika
mendengarkan dari orang yang mengucapkan
salam kepada Anda. Amin.
Pembaca, sebelum membahas salam penulis akan
sedikit berilustrasi: bagaimana kiranya dan rasanya
bila setiap hari Anda mendengar ada orang yang
berkata kepada Anda : Semoga kamu cepat dapat
jodoh (yang cantik, ganteng, soleh, solehah, dst),
cepat punya rumah, punya mobil, punya anak,
bisnis lancar dan sukses, gaji naik dan segala
kenikmatan hidup lainnya; Bahagiakah Anda?
Tentu saja saja sebagai manusia normal yang
senang dengan puji-pujian Anda akan senang dan
bahagia mendengarnya, meskipun itu belum tentu
menjadi nyata adanya. Tapi coba lihat ekspresi
muka Anda, ketika mendengar hal itu setiap hari,
dari siapa saja yang Anda temui, betapa
bahagianya Anda dan betapa Anda tidak mampu
menutupi kebahagian itu.
Sekarang bandingkan ketika Anda mendengar
ucapan salam dari orang lain, apakah rasa
bahagianya sama dengan ucapan di atas?
Hampir kebanyakan manusia yang kami jumpai,
ekspresi muka mereka datar-datar saja ketika ada
yang menyampaikan ucapan salam kepadanya,
padahal menurut kami pribadi ucapan salam jauh
lebih dahysat maknanya dibandingkan ucapan
yang kami garis bawahi di atas, sekalipun ada
yang tersenyum maka itu tidaklah menjadi dampak
dari ucapan tadi.
Bertahun-tahun lamanya kami meneliti tentang
dunia (dimensi) kata, dunia dimana tidak semua
orang bisa masuk ke dalamnya. Karena
seandainya ada yang bisa masuk (maksud kami
nalarnya yang masuk bukan tubuhnya) maka
ketika ada yang menyampaikan salam kepadanya
tentulah air mukanya pasti berubah, layaknya
bunga kering yang disirami hujan lebat; ia akan
langsung mekar berseri. Ya… Ekspresi mukanya
pasti akan sangat senang, riang, gembira sekali…
Namun apa iya ada orang yang seperti itu? Inilah
masalahnya, banyak dari kita yang mendahulukan
ucapan dan perbuatan sebelum ilmu. Akibatnya
banyak sekali yang mengalami “kekeringan makna”
dalam perjalanannya sebagai seorang muslim,
lebih-lebih dalam hal akhlak. Dan mudah-
mudahan apa yang kami urai kali ini dapat menjadi
semacam oase atau paling tidak operasi katarak
lah bagi yang tidak jelas dalam melihat.
Bab : Assalamu alaikum wa rahmatullah wa
barakatuh
Salam , secara harfiah bermakna damai. Ucapan
salam menjadi simbol keislaman, karena ucapan
ini hanya digunakan oleh umat Islam, tidak
selainnya. Antara salam dan islam menginduk
pada akar kata yang sama; salima.
Rahmat , secara harfiah bermakna kasih sayang.
Rahmatullah bermakna kasih sayang Allah
Sementara Barakah, secara harfiah artinya
kebaikan, karena ini jamak maka bermakna
banyak. Barakatuhu bermakna kebaikan-kebaikan
Allah.
Jadi, makna ucapan salam bila disederhanakan
kira-kira bermakna: “ Semoga kedamaian
(assalamu) dan kasih sayang Allah (warahmatullah)
serta kebaikan-Nya [terlimpah] (wa barakatuh)
atasmu (alaikum).”
Baik, sampai di sini apa yang Anda rasakan ketika
ada yang menyampaikan ucapan ini kepada Anda?
Tentu saya kira ekspresi Anda masih biasa-biasa
saja, hampir tidak ada yang spesial yang dapat
membuat air muka dan hati Anda berubah. Namun
bagaimana kiranya bila Anda adalah seorang
penuntut ilmu yang gigih lalu tiba-tiba ada
seseorang yang Anda kagumi atau senangi
katakanlah Syaikh fulan, lalu oleh ustad fulan Anda
dikabari bahwa Syaikh Fulan menitip salam kepada
Anda, membicararakan kebaikan Anda; apakah
Anda senang?, lalu ketika bertemu ustad-ustad
yang lainnya mereka mengatakan hal yang sama;
apakah Anda tidak bahagia?
Tentu saja Anda akan bahagia, namun mengapa
ketika mendengar ucapan salam ekspresi muka
Anda biasa-biasa saja.
Atau bagi yang hendak menikah, bagaimana
kiranya bila si fulanah yang Anda lamar kemudian
setiap Anda bertemu orang-orang mereka
mengucapkan doa kepada Anda : semoga fulanah
menerima lamaran Anda, bagaimana reaksi Anda?
Tentu Anda akan senang dan bahagia, meskipun si
fulanah belum tentu menerima lamaran Anda. Dan
segudang kasus atau kejadian lainnya di sekitar
kita.
Namun mengapa ketika ada yang mengucapkan
salam reaksi kita biasa-biasa saja?
Sesungguhnya dalam ucapan salam ada Allah
sebagai pihak ketiga (p3), antara di penutur (p1)
dan penjawab (p2). Ketika nama Allah (p3)
disebutkan lalu ditujukan padanya (p2), sementara
reaksi p2 biasa-biasa saja maka boleh jadi disana
kita melihat hubungan yang terjalin antara p2 dan
Allah sangat jauh. Bandingkan ketika Anda
menyampaikan sebuah penghormatan dari individu
yang dimuliakan, dikagumi, dicintai oleh P2 dan
sangat dekat dengannya maka Anda akan melihat
reaksi yang berbeda darinya. Seperti contoh syaikh
fulan di atas.
Kami sadar, tulisan kami ini memang agak berat
untuk diterima, namun demikianlah kenyataan yang
ada. Seseorang yang benar imannya ketika nama
Allah disebutkan kepadanya, maka ia akan seperti
ayat ini…

ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺇِﺫَﺍ ﺫُﻛِﺮَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﺟِﻠَﺖْ ﻗُﻠُﻮﺑُﻬُﻢْ
“Orang-orang yang beriman adalah mereka yang
apabila nama Allah disebutkan maka gemetarlah
hati-hati mereka.”
Dan ini menunjukkan kedekatan hubungan yang
terjalin antara mereka (orang-orang beriman)
dengan Tuhannya. Namun apa iya, orang-orang
yang mendengar nama Allah ketika diucapkan
salam (atau dalam even/kejadian apapun) kepada
mereka reaksi mereka seperti yang digambarkan
ayat di atas?
Bayangkan saja, nama Allah saja disebutkan hati
mereka langsung cepat berubah, lalu bagaimana
kiranya bila dikatakan padanya bahwa Allah
menjaminkan kepadanya kedamaian, menurunkan
kasih sayang-Nya dan mencurahkan kebaikan yang
banyak kepadanya atas dasar/alasan keislamannya
selama ia hidup di dunia, masih mungkinkah ia
tidak akan senang dan bahagia mendengarnya?
ketika ia sadar bahwa : “ Dunia adalah penjara bagi
orang-orang yang beriman !” (HR. Muslim)
Jawabnya tentu tidak mungkin, orang yang normal
tentu akan berubah air mukanya bila ia mampu
memahami hal ini, namun… mengapa mayoritas
kaum muslimin bersikap biasa-biasa saja ketika
mendengar ucapan salam kepada mereka? Seakan
ucapan ini tidak mengandung apa-apa selain
sebatas basa-basi ketika berjumpa atau akan
saling tatap muka saja. Apa yang salah?!
1+1=2 namun kenapa ketika 1+…=2 hasilnya bukan
1 malah yang lain. Silahkan pikir sendiri.

https://predatortukpencarialhaq.wordpress.com/2015/05/15/assalaamu-alaikum-warahmatullaah-wa-barakaatuh/

sofyan assingkepy punggur batam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s