Menjawab Kerancuan Berpikir Tentang Poligami (4) | Millah Ibrohim

Menjawab Kerancuan Berpikir Tentang
Poligami (4)
Orang – orang yang menolak poligami
menentangnya dengan dalil yang sebagiannya
syar’i dan sebagian lainnya akal – akalan yaitu :
Firman Allah Ta’ala :
“ Dan kamu sekali – kali tidak akan dapat berlaku
adil di antara isteri-isteri (mu), walaupun kamu
sangat ingin berbuat demikian, Karena itu
janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang
kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain
terkatung-katung. dan jika kamu mengadakan
perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan),
Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang.”

Mereka berkata : “ Ayat ini menegaskan tidak ada
kemampuan bagi laki – laki untuk berbuat adil
kepada istri – istrinya dan penafian kemampuan
berbuat adil berarti penafian ta’addud.”
Bantahan : Ayat ini menunjukan hakikat kehidupan
rumah tangga yaitu tidak ada kemungkinan adil
terhadap istri – istri walaupun ia dari orang yang
paling sholih, karena wanita berbeda – beda
kondisinya. Satu orang menyukai satu jenis
makanan, pakaian, rumah, kendaraan, perabot
rumah tangga atau yang lainnya. Istri pertama
berbeda dengan istri kedua dalam banyak
kesukaan, kecondongan dan permintaan
sebagaimana mereka berbeda – beda keinginan
seksualnya. Seolah Allah ta’ala mengisyaratkan hal
ini dalam ayat bahwa ketidak mampuan berbuat
adil bukan penghalang berpoligamy. Tetapi yang
dimaksudkan dengan adil adalah suami
memperhatikan semua istri dengan satu neraca
bukan memperhatikan salah satu dan membiarkan
yang lainnya.
Penulis kitab Manar as Sabil fi Syarh ad Dalil
berkata : “ Wajib bagi suami menyamakan
bermalam pada istri – istrinya dan tidak wajib
baginya menyamakan jimak dan dorongan –
dorongannya karena panggilan jimak adalah cinta
dan syahwat dan tidak ada persamaan dalam hal
syahwat dan cinta. Allah ta’ala telah berfirman :
“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil
di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat
ingin berbuat demikian, Karena itu janganlah kamu
terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai),
sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-
katung. dan jika kamu mengadakan perbaikan dan
memelihara diri (dari kecurangan), Maka
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” ( An Nisa’ : 129 )
Ibnu Abbas berkata : “ Kamu tidak bisa adil dalam
jimak dan cinta….( Manar as Sabil 2/221 – 223 )
Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalam manusia yang
paling adilpun mencintai Aisyah melebihi kecintaan
terhadap istri – istrinya yang lain. Karena hati
terletak diantara jemari Ar Rahman yang ia bolak –
balik sesuai dengan kehendaknya. Sehingga Nabi
shalallahu ‘alaihi wasalam berkata setelah
menggilir istri – istrinya21: “ Ya Allah ini
pembagianku yang aku miliki maka jangan Engkau
ala aku pada apa yang Engkau miliki dan tidak aku
miliki.” ( HR. Abu Dawud no. 2134 dan Hakim no.
187/2 )
2. Mereka berdalil dengan kisah Ali bin Abi Tholib
radhiallahu ‘anhu ketika meminang anak
perempuan Abu Jahl di jaman Fathimah masih
hidup, maka mendengar Ali meminang anak
perempuan musuh Allah berkata : “ Aku tidak
mengijinkan ( 3 x ) kecuali jika Ali menghendaki
talak anakku dan menikahi anaknya. Fathimah
adalah bagian dariku menyenangkanku apa yang
menyenangkannya dan menyakitiku apa yang
menyakitinya.” Dan mereka tidak menyampaikan
lafadz hadits yang lengkap. Mereka hanya menukil
cuplikan kisah untuk dijadikan dalil pelarangan
ta’addud bahkan sebagian mereka terus terang
mengharamkan ta’addud dengan kisah ini. Mereka
main – main dan mengadakan kedustaan atas
nama Allah dan RosulNya. Kemudian kisah
selanjutnya mereka tinggalkan yaitu ucapan Nabi
shalallahu ‘alaihi wasalam : “ Dan aku tidak
mengharamkan apa yang halal dan menghalalkan
apa yang haram. Akan tetapi demi Allah tidak
boleh berkumpul anak Rasulullah dan anak musuh
Allah ditempat yang satu selamanya.” ( HR.
Bukhari dan Muslim )
Syaikh Ahamad Syakir menguatkan pendapat
diatas, katanya : “ Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam
tidak menghalangi mengumpulkan antara Fathimah
dengan anak Abu Jahl pada posisi sebagai pribadi
yang memimpin keluarga yang didalamnya
terdapat Ali anak pamannya dan Fathimah anak
kesayangannya. Terbukti keluarga Abu Jahl datang
minta ijin pada Rasulullah shalallahu’alaihi
wasalam terhadap permintaan Ali. Kepala keluarga
harus ditaati khususnya bila pemimpin itu ada
tokoh Quraisy pemimpin Arab dan seluruh
manusia.” ( Umdah At Tafsir 3/106-107, Ahmad
Syakir )
3. Termasuk kerancuan berpikir mereka : Memiliki
dua istri atau lebih mengakibatkan permusuhan
dan kebencian diantara istri – istrinya dan pada
umumnya menurun kepada anak – anak atau
paling tidak anak – anak terkena debunya.
Bantahan kekacauan pikiran ini adalah : Tidak
lazim ( mesti ) dan sebaik – baik saksi adalah
kisah tuduhan zina kepada Aisyah
Radhiallahu’anha. Aisyah berkata : “ Zainab
ditanya tentang urusanku, Ia menjawab “ Hai
Rasulullah aku menjaga pendengaranku dan
penglihatanku, aku tidak melihat kecuali
kabaikan .” Aisyah berkata : “Dialah salah satu istri
Nabi yang membaggakanku lalu Allah lindungi dia
dengan sikap kehati –hatian.” ( Fathul Bari, Kitab
tafsir Hadits no. 4750 )
Dan kisah Aisyah lainnya, ia berkata : “ Bila
Rasulullah hendak bepergian mengundi istri –
istrinya untuk untuk menentukan siapa yang
menemani beliau. Undian jatuh pada Aisyah dan
Hafshah, lalu mereka pergi bersamam – sama.
Pada suatu malam Rasulullah singgah di kediaman
Aisyah sambil berbincang – bincang. Lalu Hafshah
berkata : “ Maukah kamu menunggang ontaku
malam ini dan aku menunggang ontamu lalu
melihat dan kamu melihat ? Ya, jawab Aisyah.
Aisyah menunggang onta Hafshah dan Hafshah
menunggang onta Aisyah. Rasulullah mendatangi
onta Aisyah yang sedang ditunggangi Hafshah, lalu
salam dan berjalan bersama sampai turun disuatu
tempat. Aisyah kehilangan Nabi shalallahu’alaihi
wasalam dan kecemburuannya bangkit. Ketika
Rasulullah dan rombongan berhenti, ia letakkan
kakinya diantara alat – alat perang dan berkata : “
Ya Robb, datangkan seekor kalajengking ke sini
agar ia menggigitku, Rasulmu ya Allah, aku tidak
mampu bicara apa – apa kepadanya.!” ( HR.
Bukhari no. 5211 dan Muslim no. 2445 ). Pembaca
lihatlah dua kisah diatas, apakah anda melihat
sesuatu yang disangka oleh orang – orang yang
rancu jalan pemikirannya ? Bahkan nampak
sebaliknya, nampak dari ucapan Zainab keadilan
yang pada umumnya tidak dikatakan kecuali oleh
orang –orang yang saling mencintai. Kemudian
bacalah dialog yang ramah antara Aisyah dan
Hafshah, apakah mengandung kebencian dan
kedengkian sebagaimana diduga mereka ?
Meskipun demikian, terkadang muncul sikap –
sikap saling menjauh diantara istri – istri, bukan
saling membenci secara tabiat ( alami ) yang
timbul dari kecemburuan yang dimiliki wanita.
Himah, ketegaran, kemampuan suami dalam
memenejemen keluarganya, keadilan dan
kedekatannya kepada Allah sangat menentukan
terpecahkannya problem para istri. Bila ia
melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik,
maka keluargapun baik dan tidak ada pertengkaran
dalam rumah tangganya. Bila ia tidak memiliki sifat
( karakter – karakter ) diatas, maka timbullah
pertengkaran dan percekcokan dalam rumah
tangganya. Apakah ia beristri satu atau lebih !
Inilah kisah Rasulullah yang kokoh akhlaqnya
bersama istri – istrinya sebagai ibrah suami dan
istri. Dikisahkan bahwa Shafiah mendengar Aisyah
dan Hafshah berkata : “ Kami lebih mulia disisi
Allah dibandingkan Shafiah.” Shafiah kemudian
mengadukan perkataan mereka kepada Nabi.
Beliau berkata : “ Mengapa kamu tidak
mengatakan, “ Mengapa kamu mengatakan lebih
utama dari pada aku, sedangkan suamiku
Muhammad, ayahku Harun dan pamanku Musa ?
( HR. Tirmidzi no. 3892 dan Al Hakim 4/29 ).
Zainab pernah menjuluki Shafiah dengan
perempuan Yahudi. Setelah itu Zainab dibiarkan
selama satu bulan oleh Rasulullah.
Dari Aisyah radhiallahu’anha berkata : “ Aku
berkata pada Nabi shalallahu’alaihi wasalam, “
Cukup bagi anda Shafiah yang pendek “. Nabi
langsung membantah ucapan Aisyah, “ Kamu telah
mengucapkan satu kalimat seandainya
dicampurkan dalam air laut niscaya
mengotorinya .” ( HR. Abu Dawud no. 4875 dan
Tirmidzi no. 2502 ).
Dalam kehidupan sehari –hari kita melihat sesama
saudara hidup dalam kondisi saling dengki, kaku
dan dingin. Ada pula yang hidup saling mencintai
dan bersatu. Kita temukan pula orang yang beristri
lebih dari satu jelek kehidupan rumah tangganya.
Kondisi terakhir perlu penyelesaian sampai akar
masalah. Akan tetapi, solusi problem rumah tangga
tidak bisa jadi alasan penolakan ta’addud yang
mempunyai banyak manfaat. Bila kita perhatikan
muamalah masyarakat, kita akan mengetahui
bahwa mereka bermuamalah dengan perilaku yang
tidak sehat dan lurus…karena mereka telah rusak
akhlaqnya dan kehilangan sisi – sisi kehidupan
yang terpuji. Lalu apakah kita harus meninggalkan
semua muamalah gara – gara sebagian orang
menyimpang dari kebenaran, kebaikan dan hidayah
– hidayah ?
Apakah orang berakal akan berprinsip
meninggalkan interaksi terhadap sesama orang
demi menjauhi problem – problem yang dilakukan
beberapa anggota masyarakat ? Apabila beberapa
anggota masyarakat yang bodoh itu telah
berpandangan jelek terhadap ta’addud maka
pandangan itu tidak perlu dianggap terlebih jika
kita melihat manfaat besar dari ta’addud dan
kerusakan tereduksi dengan sebab ta’addud.” ( Al
Islam wa Ta’addud az Zaujat, Ibrohim An Ni’mah,
47 – 48 )
4. Mereka berkata : “ Poligamy menyebabkan
banyak kelahiran yang menyebabkan kemiskinan
dan banyak pengangguran.”
Membantah pernyataan mereka DR. Muhammad
Abadus Salam berkata : “ Telah diketahui dari dulu
hingga sekarang banyak anak dengan pendidikan
yang baik termasuk salah satu sebab terbesar
bertambahnya kekuatan Islam. Contoh yang paling
jelas adalah bangsa Jepang dan Cina yang terdidik
dalam tarbiah yang jelek bukan karena banyak
anak menjadi bangsa yang buruk akhlaq dan
aqidahnya. Pengangguran banyak ditemukan di
Arab padahal negeri – negeri Arab sangat luas dan
kekayaannya dapat mencukupi seluruh
penduduknya.
Kalau dampak buruk itu dianalogikan pada
maslahat – maslahat ta’addud yang telah terbukti
nyata tentu kemaslahatan – kemaslahatan ta’addud
lebih kuat dikarenakan ta’addud menambah beribu
– ribu kebaikan atas perkara – perkara yang
mungkin telah rusak dengan merujuk pada
pendidikan Al Qur’an yang telah memerintahkan
adil dan tarbiah yang bagus.” ( Al Kalimah fi Bayan
mahasin Ta’addud az Zaujat, Hasyim bin Hamid Ar
Rifa’I, 68 )
Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin pernah
ditanya hukum orang yang mengatakan bahwa
kemiskinan, kelemahan dan kemunduran kaum
muslimin pada jaman sekarang akibat dari
kepadatan penduduk dan banyaknya kelahiran ?
Beliau menjawab : “ Pernyataannya salah besar.
Karena Allah yang mencurahkan rizki kepada siapa
yang dikehendaki dan menyempitkannya.
Sebabnya bukan kepadatan penduduk. Tak ada
seekor binatang melatapun kecuali rizkinya telah
Allah jamin. Akan tetapi Allah memberi dan
menahan rizki untuk suatu hikmah tertentu. Aku
menasihatkan pada orang yang berkeyakinan
seperti itu agar bertaqwa, dan meninggalkan
keyakinannya dan hendaknya ia tahu
bagaimanapun padatnya jumlah penduduk, Allah
mampu memenuhi rizkinya. Akan tetapi Ia
berfirman dalam kitabNya :
“ Seandainya Allah membentangkan rizki yang
banyak pada manusia niscaya mereka berbuat
aniaya di bumi, akan tetapi Allah menurunkan rizki
sesuai ukuran yang Ia kehendaki. Sesungguhnya Ia
maha mengetahui dan melihat hamba – hambaNya
yang pantas diberi rizki dan siapa yang tidak
pantas.” ( Asy Syura : 27 ) ( Dari fatawa tertulis,
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin yang beliau tanda tangani )

sumber :
http://millahibrohim.wordpress.com/2009/11/08/menjawab-kerancuan-berpikir-penentang-poligami/

sofyan assingkepy punggur batam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s