MENYIKAPI ORANG BERZINA | ASH-HABUL HADITS

MENYIKAPI ORANG BERZINA
Pertanyaan: Bagaimana sikap kita Ustadz terhadap
saudara kita yang nampak oleh kita dia berbuat
dosa besar, yang mana perbuatan tersebut
Wallahu A’lam tidak ada yang mengetahuinya
kecuali Allah yang Maha Melihat dan kita sebagai
saudaranya, apakah sikap terbaik kita?. Apakah
langsung kita melaporkan ke aparat yang berwajib
ataukah kita menasehatainya?.
Jawab: Kalau aparat yang berwajib itu menerapkan
hukum Islam, sebagaimana di KSA maka tidak
mengapa dilaporkan kepada mereka, sehingga
ditegakan hukum padanya, namun perlu dilihat
terlebih dahulu: Apakah saudara kita tersebut
melakukan dosa besar tersebut karena
ketergelinciran yang pada asalnya dia
membencinya ataukah dia melakukan perbuatan
tersebut karena sudah menjadi prilakunya atau
kenakalannya?.
Bila perbuatan tersebut karena ketergelincirannya
maka jalan yang terbaik, kamu menasehatinya
empat mata, dengan nasehatmu dia akan
menyadari atas ketergelincirannya, sebagaimana
ketika ada seorang shohabat terjatuh ke dalam
perbuatan dosa besar tersebut kemudian
mengakuinya di hadapan Rosululloh
‘Alaihishsholatu Wassalam maka beliau berpaling
darinya

» PENYIMPANGAN AQIDAH & CARA PENANGGULANGANNYA .:: Darul-Ilmi ::.

PENYIMPANGAN AQIDAH & CARA
PENANGGULANGANNYA
ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ
Saudaraku kaum muslimin rohimakumulloh, pada
pembahasan yang lalu telah kita ketahui bersama
tentang pentingnya aqidah yang benar.
Ya, aqidah yang benar pada diri seseorang itu
akan menjadi motivator utama untuk melakukan
amal-amal yang bermanfaat, sehingga hidupnya
akan berbahagia di dunia maupun di akhirat nanti.
Sedangkan aqidah yang tidak benar (bathil), akan
menyebabkan mereka binasa. Mengapa ?
Hal itu karena apabila seseorang mempunyai
aqidah yang tidak benar, dia akan terus menerus
berada dalam keraguan dan kesesatan,
menghalanginya dari mempunyai pandangan hidup
yang benar, jauhnya dari petunjuk, akibatnya dia
akan menuruti setiap keinginan nafsunya, hingga
akhirnya kehidupannya tak ubahnya seperti hewan.

Diantara Tanggapan Terhadap Pertanyaan Seputar Jaringan ISIS (Daulah Islamiyyah) | ASH-HABUL HADITS

Diantara Tanggapan Terhadap Pertanyaan Seputar
Jaringan ISIS (Daulah Islamiyyah)
Silahkan Klik Gambar Untuk Mendengarkan Audio!
TANYA:
“Kenapa daulah Islamiyyah disebut khawarij?.
Apakah karena mereka membantu saudara muslim
Ahlussunnah yang dibantai rezim syiah?.
Apakah karena daulah Islamiyyah melawan
syiah,Amerika dan sekutunya, kemudian mereka
dikatakan khawarij?.
Jika yang berjihad mengorbankan harta, jiwa dan
darahnya untuk menolong muslim Ahlussunnah
yang dibantai syiah, yang digempur Amerika dan
sekutunya disebut khawarij, lalu siapa yg disebut
mujahidin saat ini?”.
JAWAB: ISIS atau yang dinamai dengan daulah
Islamiyyah dikatakan sebagai khowarij karena
mengkafirkan pemerintah kaum muslimin dan
menghalalkan darah kaum muslimin yang mereka
bersama pemerintah tersebut, perbuatan dan
keyakinan seperti ini adalah dosa dari dosa-dosa
besar yang mengakibatkan pelakunya masuk ke
dalam neraka, Alloh Ta’ala berkata:
( ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﻘْﺘُﻞْ ﻣُﺆْﻣِﻨًﺎ ﻣُﺘَﻌَﻤِّﺪًﺍ ﻓَﺠَﺰَﺍﺅُﻩُ ﺟَﻬَﻨَّﻢُ ﺧَﺎﻟِﺪًﺍ ﻓِﻴﻬَﺎ
ﻭَﻏَﻀِﺐَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﻟَﻌَﻨَﻪُ ﻭَﺃَﻋَﺪَّ ﻟَﻪُ ﻋَﺬَﺍﺑًﺎ ﻋَﻈِﻴﻤًﺎ )
“Dan barang siapa membunuh seorang mu’min
dalam keadaan bersengaja maka balasannya
adalah jahannam, dia lama di dalamnya, Alloh
murka kepadanya, dan Dia mela’natnya serta
menyediakan baginya azab yang pedih”.
Tidak hanya itu yang dilakukan oleh kaum
khowarij, namun mereka juga memisahkan diri-diri
mereka dari kaum muslimin dan pemimpin mereka,
dengan membentuk jama’ah tersendiri
sebagaimana kaum khowarij di zaman Ali bin Abi
Tholib membentuk jama’ah tersendiri dan mereka
bersatu dalam suatu kampung yang kemudian
dinamai mereka dengan Haruriyyah.
Tidaklah mereka keluar dari pemerintahan Ali bin
Abi Tholib melainkan karena sebab Ali bin Abi
Tholib telah damai dengan Muawiyyah bin Abi
Sufyan, dan juga Ali tidak menghalalkan harta dan
kehormatan Muawiyyah dan orang-orang yang
bersamanya, dengan itu mereka menuduh Ali tidak
berhukum dengan hukum Alloh, yang pada
akhirnya mereka menantang dan mengumumkan
perlawanan terhadap penguasa Ali bin Abi Tholib.
Keadaan khowarij pada awalnya bangkit
menampakan pembelaan kepada Ali, mereka ketika
sudah membantai Utsman bin Affan maka mereka
bergegas membai’at Ali dan membelanya, mereka
memerangi siapa saja yang mereka anggap
sebagai musuh-musuh Ali bin Abi Tholib,
kemudian mereka berbelok haluan dengan
memusuhi Ali, dengan anggapan karena berhukum
dengan selain hukum Alloh, dan kita bisa
bandingkan dengan ISIS (daulah Islamiyyah) ini,
pada awalnya menampakan pembelaan kepada
Ahlissunnah dengan memerangi syi’ah, namun
akan tampak hakekat mereka ketika nanti
Ahlussunnah mengingkari dan menyelisihi
mereka?!.
Termasuk dari sifat khowarij dari sejak munculnya
adalah meneriakan jihad, membela penguasa Ali
bin Abi Tholib, membela kaum muslimin, karena
ketika itu mereka menganggap Muawiyyah dan
siapa saja yang bersamanya adalah termasuk
orang-orang kafir, ketika Ali menginginkan adanya
perdamaian dengan saudaranya Muawiyyah maka
khowarij tidak terima, mau mereka tetap perang,
mau mereka “jihad” dan “jihad”, namun jihad
mereka tanpa didasari ilmu, maka benar apa yang
kami katakan:
ﻛﻞ ﺟﻬﺎﺩ ﻟﻢ ﻳﺆﻛﺪ ﺑﻌﻠﻢ، ﻓﺈﻟﻰ ﺯﻳﻎ ﻣﺼﻴﺮﻩ
“Setiap jihad yang tidak dikuatkan dengan ilmu,
maka kepada penyimpangan tempat kembalinya”.
Para khowarij generasi pertama sangat
bersemangat jihad, hingga mereka tidak terima
adanya perdamaian, ketika Ibnu Abbas
Rodhiyallohu ‘Anhuma menegakan hujjah kepada
mereka, ternyata mereka sangat lemah dalam
keilmuan dan pemahaman.
Kalaupun mereka sangat bersemangat jihad seperti
itu maka keadaan mereka bukanlah mujahidin yang
sesungguhnya, karena mujahidin yang
sesungguhnya adalah mereka berperang untuk
meninggikan kalimat tauhid dan merealisasikan
konsekwensi kalimat tauhid tersebut:
( ﻭَﻗَﺎﺗِﻠُﻮﻫُﻢْ ﺣَﺘَّﻰٰ ﻟَﺎ ﺗَﻜُﻮﻥَ ﻓِﺘْﻨَﺔٌ ﻭَﻳَﻜُﻮﻥَ ﺍﻟﺪِّﻳﻦُ ﻛُﻠُّﻪُ ﻟِﻠَّﻪِ )
“Dan perangilah mereka sampai tidak ada fitnah
dan supaya keberadaan agama semuanya bagi
Alloh”.
Demikian tujuan jihad untuk menghilangkan dan
melenyapkan fitnah berupa kesyirikan dan
perantara-perantara kepadanya, bukan sekedar
mengibarkan bendera hitam yang tertuliskan
kalimat tauhid atau menulisnya ke pengikat kepala,
atau meninggikannya dengan ditancap ke bukit-
bukit, namun ditinggikan kalimat tauhid dengan
cara jihad syar’iy dan dengan cara merealisasikan
konsekwensinya, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa
Sallam berkata:
ﻣﻦ ﻗﺎﺗﻞ ﻟﺘﻜﻮﻥ ﻛﻠﻤﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﻫﻲ ﺍﻟﻌﻠﻴﺎ ﻓﻬﻮ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ
“Barang siapa yang berjihad untuk menjadikan
kalimat Alloh adalah tinggi maka dia adalah di
jalan Alloh”.
Diantara konsekwensi kalimat tauhid sebagaimana
yang telah dijelaskan oleh Abul Abbas Harmin bin
Salim Al-Limboriy Rohmatulloh ‘Alaihi adalah:
ﺍﻣﺘﺜﺎﻝ ﺍﻷﻭﺍﻣﺮ ﻭﺍﺟﺘﻨﺎﺏ ﺍﻟﻨﻮﺍﻫﻲ
“Melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi
larangan-larangan”.
Betapa banyak larang-larangan yang telah
dilakukan oleh ISIS dan betapa banyak pula
perintah-perintah yang mereka tinggalkan?!.
Dijawab oleh:
Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy
‘Afallohu ‘anhu (16/5/1436).

https://ashhabulhadits.wordpress.com/2015/03/07/seputar-jaringan-isis-daulah-islamiyyah/#more-11346

sofyan assingkepy punggur batam