Poligami (Ta’addud)… ?? (1) | Millah Ibrohim

Poligami (Ta’addud)… ?? (1)
PENGANTAR
Alloh Ta’ala berfirman :
ﺇﻥ ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﻧﺤﻤﺪﻩ ﻭ ﻧﺴﺘﻐﻔﺮﻩ ﻭ ﻧﻌﻮﺫ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﺷﺮﻭﺭ
ﺃﻧﻔﺴﻨﺎ ﻭ ﺳﻴﺌﺎﺕ ﺃﻋﻤﺎﻟﻨﺎ ﻣﻦ ﻳﻬﺪ ﻩ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻼ ﻣﻀﻞ ﻟﻪ ﻭ ﻣﻦ
ﻳﻀﻠﻞ ﻓﻼ ﻫﺎﺩﻱ ﻟﻪ ﻭ ﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺣﺪﻩ ﻻ
ﺷﺮﻳﻚ ﻟﻪ ﻭ ﺃﺷﻬﺪ ﻣﺤﻤﺪﺍ ﻋﺒﺪﻩ ﻭ ﺭﺳﻮﻟﻪ
Sesungguhnya segala pujian hanyalah milik Alloh,
kami memuji, meminta ampunan kepadaNya,
berlindung kepadaNya dari kejelekan jiwa-jiwa dan
amal-amal kami. Barangsiapa ditunjuki Alloh maka
tidak ada yang menyesatkannya dan barangsiapa
disesatkanNya maka tidak ada yang dapat
menunjukinya. Aku bersaksi bahwa tidak ada
sesembahan yang berhak di sembah selain Alloh
tidak ada sekutu bagiNya dan aku bersaksi bahwa
Muhammad adalah hamba dan rasulNya.
ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬﺎَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺣَﻖَّ ﺗُﻘَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻻَ ﺗَﻤُﻮﺗُﻦَّ ﺇِﻻَّ ﻭَﺃَﻧﺘُﻢ
ﻣُّﺴْﻠِﻤُﻮﻥَ } ﺁﻝ ﻋﻤﺮﺍﻥ : 102 }
“Hai orang-orang beriman bertakwalah kepada
Alloh dengan sebenar-benar takwa dan janganlah
kamu mati kecuali kalian beragama Islam”. (Ali
Imron :102)

Baca lebih lanjut

FATWA POLIGAMI | Hijab Muslimah Salafyah Ahlussunnah wal Jama’ah

FATWA POLIGAMI
Penulis: Al-Lajnah Ad-Daimah lil Ifta
Pertanyaan :
Apakah benar bahwa menikah lebih dari satu
(poligami) tidak disyariatkan kecuali bagi orang
yang di bawah tanggung jawabannya terdapat anak
yatim dan ia khawatir tidak bisa berlaku adil ?
Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin
Baaz ditanya:
Sebagian orang berkata bahwa menikahi lebih dari
satu istri tidak disyariatkan kecuali bagi orang
yang memegang tanggung jawab atas anak-anak
yatim perempuan dengan berdalil firman Allah
Ta’ala :
ﻭَﺇِﻥْ ﺧِﻔْﺘُﻢْ ﺃَﻟَّﺎ ﺗُﻘْﺴِﻄُﻮﺍ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻴَﺘَﺎﻣَﻰ ﻓَﺎﻧْﻜِﺤُﻮﺍ ﻣَﺎ ﻃَﺎﺏَ ﻟَﻜُﻢْ
ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀِ ﻣَﺜْﻨَﻰ ﻭَﺛُﻠَﺎﺙَ ﻭَﺭُﺑَﺎﻉَ
“ Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil
terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana
kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-
wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau
empat. “ (An-Nisaa’: 3)
Kami mengharap dari Fadhilatusy Syaikh
penjelasan yang sebenarnya dari permasalahan
tersebut.
Jawaban :
Ini pendapat yang batil (salah). Makna ayat yang
mulia tersebut adalah, bila di bawah pemeliharaan
salah seorang dari kalian terdapat seorang
perempuan yatim, lalu ia khawatir jika menikahinya
tidak bisa memberikan mahar yang sebanding,
maka hendaknya ia mencari (wanita) yang lain.
Karena sesungguhnya wanita itu banyak dan Allah
tidak menjadikannya sempit (terbatas).
Ayat tersebut menunjukkan disyariatkannya
menikahi wanita dengan jumlah dua, tiga, atau
empat karena hal tersebut lebih sempurna di
dalam memelihara (bagi suami), baik terhadap
syahwat maupun pandangan matanya.
Juga karena hal tersebut merupakan sebab
memperbanyak keturunan, menjaga kehormatan
wanita, berbuat baik kepada mereka, dan
memberikan nafkah kepada mereka.
Tidak diragukan lagi bahwa wanita yang memiliki
hak setengah dari suami (karena suami memiliki
dua istri), atau sepertiga atau seperempat (karena
ada 3 atau 4 istri), itu lebih baik daripada wanita
yang tidak memiliki suami. Akan tetapi dengan
syarat harus ada keadilan dan kemampuan.
Bagi yang khawatir tidak bisa berbuat adil, maka
mencukupkan diri dengan satu istri bersama
dengan yang dimiliki berupa budak perempuan. Ini
semua ditunjukkan dan ditegaskan dengan
perbuatan Nabi dimana beliau ketika meninggal
dunia masih memiliki 9 istri, sementara Allah
Ta’ala berfirman:
ﻟَﻘَﺪْ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻜُﻢْ ﻓِﻲ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃُﺳْﻮَﺓٌ ﺣَﺴَﻨَﺔٌ
“ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu
suri teladan yang baik bagimu.” (Al-Ahzab: 21(
Namun beliau telah menjelaskan kepada umatnya
bahwa tidak boleh bagi seorang pun dari umatnya
dalam satu waktu memiliki lebih dari 4 istri.
Disimpulkan dari hal tersebut bahwa meniru Nabi
di sini dengan cara menikahi empat istri atau
kurang dari itu. Adapun lebih dari itu maka
merupakan kekhususan bagi Nabi Shalallahu’alaihi
wassallam. (Lihat Fatawa Mar’ah 2/61. )
Pertanyaan :
Apakah Surat An-Nisaa’ ayat 129 telah menghapus
hukum Surat An-Nisaa’ ayat 3 (Tentang keharusan
berbuat Adil) ?
Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin
Baz ditanya:
Di dalam Al-Quran terdapat ayat tentang poligami
yang menyebutkan:
ﻓَﺈِﻥْ ﺧِﻔْﺘُﻢْ ﺃَﻟَّﺎ ﺗَﻌْﺪِﻟُﻮﺍ ﻓَﻮَﺍﺣِﺪَﺓً
“ Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat
berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja.” (An-
Nisaa’: 3)
Juga firman Allah dalam ayat lain:
ﻭَﻟَﻦْ ﺗَﺴْﺘَﻄِﻴﻌُﻮﺍ ﺃَﻥْ ﺗَﻌْﺪِﻟُﻮﺍ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀِ ﻭَﻟَﻮْ ﺣَﺮَﺻْﺘُﻢْ
“ Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil
di antara isteri-isteri (mu), walaupun kamu sangat
ingin berbuat demikian. “ (An-Nisaa’: 129)
Pada ayat pertama disyaratkan untuk adil di dalam
hal menikah lebih dari satu istri dan pada ayat
kedua dijelaskan bahwa syarat untuk berbuat adil
itu tidak akan mungkin dilakukan. Maka apakah
ayat kedua itu menghapus hukum dari ayat
pertama yang berarti tidaklah pernikahan itu
melainkan hanya dengan satu istri karena syarat
adil tidak mungkin bisa dilakukan?. Berilah kami
pengetahuan, semoga Allah membalas anda
dengan kebaikan.
Jawaban :
Tidak ada pertentangan di dalam dua ayat tersebut
dan tidak pula ada penghapusan hukum oleh salah
satu dari kedua ayat tersebut terhadap yang
lainnya.
Perbuatan adil yang diperintahkan adalah yang
sesuai kemampuan, yaitu adil di dalam pembagian
waktu bermalam dan pemberian nafkah.
Sedangkan adil dalam masalah cinta dan hal-hal
yang berkaitan dengannya seperti perbuatan intim
dan sejenisnya, maka hal ini tidak ada
kemampuan. Permasalahan tersebut yang
dimaksudkan dengan firman Allah Ta’ala :
ﻭَﻟَﻦْ ﺗَﺴْﺘَﻄِﻴﻌُﻮﺍ ﺃَﻥْ ﺗَﻌْﺪِﻟُﻮﺍ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀِ ﻭَﻟَﻮْ ﺣَﺮَﺻْﺘُﻢْ
“ Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil
di antara isteri- isteri (mu), walaupun kamu sangat
ingin berbuat demikian .” (An-Nisaa’: 129)
Oleh karena itu telah kuat riwayat hadits dari Nabi
pada riwayat Aisyah Radhiyallahu’anha, ia berkata:
“Beliau biasa membagi hak diantara istri-istrinya
lalu beliau berdoa: ‘Ya Allah, inilah usahaku
membagi terhadap apa yang aku mampu, maka
janganlah Engkau cela aku terhadap apa yang
Engkau mampu sedangkan aku tidak mampu.
” (Riwayat Abu Dawud, At Tirmidzi, An-Nasal, dan
Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan-
AlHakim)
Pertanyaan :
Apakah disyaratkan adanya ridha istri pertama di
dalam berpoligami ?
Al-Lajnah Ad-Daimah lil Ifta ditanya:
Tidak diragukan lagi bahwa Islam membolehkan
adanya poligami, maka apakah diharuskan bagi
suami untuk meminta keridhaan istri pertama
sebelum menikahi istri kedua?
Jawaban :
Tidak wajib bagi suami bila ingin menikah dengan
istri kedua harus ada keridhaan istri pertama.
Akan tetapi termasuk dari akhlak yang baik dan
pergaulan yang harmonis untuk menjadikan
senang hati istri pertama dengan cara meringankan
baginya hal-hal yang bisa menyakitkan, yang ini
termasuk dari tabiat wanita dalam permasalahan
poligami.
Caranya yaitu dengan wajah yang berseri-seri,
ucapan yang manis, dan dengan hal-hal yang bisa
memudahkan keadaan, seperti pemberian sejumlah
barang untuk mendapatkan ridhanya. (Majalah Al
Buhuts Al Islamiyyah 2/67)
(Sumber : Fatwa-Fatwa Ulama Ahlus Sunnah
seputar Pernikahan)

https://hijab1.wordpress.com/2011/03/31/fatwa-poligami/

sofyan assingkepy punggur batam